Monday, December 22, 2014

Bahan Bakar Sintetis Dari Air

cars
Bahan Bakar Minyak atau BBM telah menjadi isu hangat akhir-akhir ini, sejatinya BBM memang menjadi sumber daya alam yang menjadi perhatian banyak orang, tidak hanya bagi masyarakat Indonesia namun penduduk dunia pada umumnya.

Kelangkaan dan kesulitan BBM yang dialami oleh manusia saat ini mendorong kita untuk terus berinovasi dalam mencari energi alternatif untuk bahan bakar mesin. Manusia telah mencari cara untuk menggunakan sumber daya selain minyak bumi untuk energi alternatif, dan salah satunya adalah air.

 
Sebuah perusahaan yang berbasis di Jerman, bernama Sunfire GmbH telah menemukan cara untuk membuat bahan bakar sintetis dari air. Para ilmuwan tersebut telah berhasil mencampurkan unsur air (H2O) dengan karbon dioksida (CO2) yang kemudian mengubahnya menjadi hidrokarbon cair yang merupakan bahan dasar untuk membuat bahan bakar sintetis seperti solar, kerosin dan bensin.

Dengan melalui proses Fischer-Tropsch yakni sebuah proses kumpulan reaksi kimia yang mengubah campuran karbon monoksida dan hidrogen menjadi hidrokarbon cair, dalam demonstrasinya para ilmuwan itu mampu menghasilkan bahan bakar sintetis yang dapat digunakan untuk menjalan kendaraan dan mesin.
 
Proses ini sebenarnya bukanlah hal baru, sebelumnya dua orang ilmuwan dari German bernama Franz Fischer dan Hans Tropsch telah menemukan metode ini pada tahun 1925 lalu dengan tambahan metode solid oxide electrolyser cells (SOECs) dan kini proses pembuatannya telah disempurnakan oleh para ilmuwan di Sunfire GmbH.
 
Secara garis besar, proses pembuatanya adalah sebagai berikut; penggunaan unsur hidrogen ini dimaksudkan untuk mengurangi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan dari atmosfer, kemudian diendapkan menjadi biogas atau dikumpulkan dengan menggunakan pengolahan limbah gas.
 
Selanjutnya karbon monoksida dan hidrogen yang dihasilkan kemudian disintesis menjadi bahan bakar dengan kemurnian tinggi dengan menggunakan proses Fischer-Tropsch tadi. Kelebihan panas dari proses ini kemudian digunakan untuk menciptakan lebih banyak uap, pihak Sunfire mengklaim bahwa proses ini telah meningkatkan efisiensi hingga 70 persen.

Pada percobaan yang dilakukan, pihak Sunfire telah berhasil mengolah CO2 dan menghasilkan bahan hidrokarbon sebanyak 3,2 ton perhari, namun skalanya dapat ditingkatkan dengan membangun instalasi rig yang lebih besar, dengan rig tersebut proses ini mampu menghasilkan bahan bakar sebanyak satu barel perhari.
 
Namun pihak Sunfire membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk membangun rig tersebut, biaya yang dibutuhkan untuk membangun rig itu mencapai tujuh digit angka, dan rencananya setengah dari biaya tersebut berasal dari dana publik yang diterima dari Kementerian Federal Pendidikan dan Penelitian.

 Sumber: www.trenologi.com