Monday, December 15, 2014

Sukses - lanjutannya?

 

“Sukses – apa lanjutannya?” Ini sebuah judul email yang menggelitik. Simpel, tapi susah jawabnya ya kan? Pertanyaan “sukses itu apa?”, sudah susah dijawab, apalagi lanjutannya..?

Nah, kalau kita mengacu kepada pendapat mayoritas masyarakat yang pada umumnya menganggap bahwa sukses itu identik dengan uang, maka ada baiknya kalau kita meninjau lebih jauh apa gerangan yang ada di balik itu semua. “Money oriented people” biasanya beranggapan bahwa pada saat Anda berhasil mengumpulkan sejumlah besar uang, maka di situlah letak kesuksesan Anda. Kesuksesan yang bersifat terminal, artinya Anda telah sampai ke titik akhir dari sebuah perjuangan panjang. Titik di mana Anda tidak perlu lagi bekerja, titik di mana Anda juga telah memperoleh kebebasan penuh, kebebasan untuk berbuat apa saja sekehendak hati. Mau tidur di saat orang lain sibuk pergi ke kantor, ya boleh saja. Mau jalan-jalan ke luar negeri atau main golf di saat orang lain sedang bersitegang di ruang rapat, ya nggak ada yang larang. Pokoknya, apa pun yang Anda mau lakukan, tidak akan ada yang keberatan. Istri, suami, kerabat, famili, pegawai, dan siapa pun, termasuk mertua pun pasti tak akan menegur, apalagi mencegah. Toh Anda sudah kaya, dan barangkali inilah yang kebanyakan orang mengartikannya sebagai indiksasi sebuah “financial freedom”. Kebebasan keuangan, merdeka secara finansial!

Bayangkan, sementara orang-orang lain masih menjadi budak uang, bekerja mati-matian setiap hari untuk dapat memburu uang, Anda justru telah berhasil menjajah uang, menyuruhnya bekerja untuk mengundang teman-temannya yang lain menjadi pekerja Anda. Hebat sekali kan?

Ya benar. Anda hebat. Hanya saja, kaya atau sukses itu sifatnya relatif. Tidak definitif. Sukses atau kesuksesan sudah pasti sulit untuk dibuatkan tolok ukurnya. Kalau kaya? Bisakah diambilkan angka-angka yang bisa mewakili kesuksesan kita?

Kalau si Badu yang berpenghasilan 2 juta rupiah sebulan, berjalan-jalan di sebuah perkampungan kumuh yang penduduknya banyak busung lapar, maka dia mungkin akan merasa dialah orang terkaya di lingkungan itu. Tapi kalau ia kemudian melintas di kompleks elit semacam Pondok Indah Jakarta, kemungkinan besar ia akan merasa berubah miskin seketika itu juga. Seorang teman yang pengusaha, selama ini merasa telah mencapai tingkatan hidup yang “financial free” sehingga mengekspresikannya dengan bepergian ke luar negeri berulang kali setiap tahun. Namun suatu saat, ia berkata kepada saya, bagaimana ia merasa miskin kembali, saat mengunjungi Hollywood di Amerika Serikat. Lho, bagaimana ini? Siapa miskin, siapa kaya?

Yang saya dengar, orang terkaya di dunia yang namanya Bill Gates juga masih datang ke kantor setiap hari. Aneh ya, apakah ia ini merasa masih kurang kaya atau kurang sukses? Atau belum benar-benar “financial free”?

Yah, itulah yang namanya sebuah relativitas. Saya hanya berfikir, andaikata Anda menganggap kelimpahan uang sebagai sebuah terminal akhir, maka Dewa Kesuksesan akan menyambut Anda dengan kata-kata: “Happy landing in your own paradise..” lalu Anda dipersilahkan masuk kesebuah pintu gerbang yang di dalamnya terhampar sebuah padang rumput hijau indah serta luas tiada bertepi. Sepintas pemandangan itu sangat-sangat indah, tapi Anda bingung harus melangkah ke mana. Yang umum terjadi, pada masa-masa awal orang akan sangat menikmati terminal akhir dari sebuah kesuksesan seperti itu, namun perlahan tapi pasti, di suatu batas ia akan mengalami kejenuhan yang menyebabkannya merasa kehilangan tujuan.
Saya mendeteksi fenomena itu sebagai sebuah sindrom. Dari pembicaraan dengan beberapa rekan yang berkompetensi dalam aspek-aspek kejiwaan, belum ditemukan istilah yang benar-benar tepat dan baku untuk itu. Oleh karenanya saya cenderung untuk memberi istilah sebagai “sindrom kehilangan tujuan”, atau kalau boleh disingkat, kita sebut saja sebagai “SKT”.

Penyebab sindrom tersebut adalah karena seseorang menganggap “keberhasilan dalam mengumpulan banyak uang” sebagai sebuah titik akhir dari sebuah perjuangan. Dan bila keberhasilan sebagaimana yang didefinisikan itu telah tercapai, maka saat itulah “sidrom kehilangan tujuan” akan muncul.

Dampak dari SKT ini cenderung negatif, dan bisa terjangkit pada semua orang dari profesi apa saja, dan tersebar mulai dari lapisan masyarakat paling bawah, sampai ke lapisan paling atas.

Di tingkat lapisan masyarakat bawah, bisa kita lihat gejala SKT menghinggapi mereka yang merasa kebutuhan pokoknya telah terpenuhi. Beberapa rekan yang bekerja sebagai sopir atau pesuruh kantor (office boy) di perusahaan-perusahaan besar, menerima gaji yang jauh lebih tinggi, bila dibanding karyawan sejenis di perusahaan lain. Gaji tersebut sudah berlebihan menurut kebutuhan mereka, sehingga walau sebagian ditabung, masih ada sejumlah uang tersisa yang entah untuk apa nantinya digunakan.

Mereka akhirnya terkena SKT, karena setelah semua kebutuhan pokok dan nafkah keluarga telah terpenuhi, untuk apa lagi kelebihan uang itu ? Apa lagi yang harus dilakukan ? Maka. seperti telah disinggung di atas, SKT cenderung berakibat negatif. Sebagian dari mereka akhirnya pergi ke dunia gelap, foya-foya, mabuk-mabuk dan banyak yang merencanakan kawin lagi.

Pada tingkat menengah, gejalanya tidak jauh berbeda. Foya-foya sudah menjadi standar yang lumrah. Kalangan menengah biasanya menginjak taraf kemapanan sekitar umur 40-an tahun. Maka SKT menjelma dalam bentuk yang sudah sangat dikenal masyarakat, antara lain berupa “masa puber kedua” dan semacamnya. Makin tinggi tingkat kecukupan seseorang dalam soal materi—(ini sering diidentikkan orang sebagai keberhasilan hidup)--SKT menampakkan dampaknya lebih dahsyat.

Di kalangan atas, banyak dari kaum elit memelihara istri-istri simpanan, mencari hiburan keluar negeri, berjudi di pusat-pusat perjudian internasional. Yang lebih parah, para pengusaha raksasa yang terkena SKT, melanjutkan sepak terjangnya dengan merugikan orang lain, misalnya mencaplok perusahaan-perusahaan yang lebih kecil, berkolusi untuk menguasai lahan-lahan milik masyarakat yang berpotensi ekonomi dan banyak tindakan-tindakan tidak etis lainnya.

Lain halnya apabila seseorang menganggap keberhasilan dalam mengumpulkan kekayaan materi sebagai sebuah “titik awal” dari sebuah perjalanan lanjutan menuju kesuksesan lain yang lebih bermakna dan lebih berkualitas. Orang-orang tipe ini tidak akan terkena sindrom, sebab Dewa Kesuksesan tidak menyambut mereka dengan kata-kata: “Happy landing…...”, melainkan dengan ucapan “Welcome on board..”, untuk selanjutnya mempersilahkan orang sukses menaiki kapal yang dikemudikannya, lalu berlayar menuju pulau-pulau kesuksesan berikut.

Apa saja yang dimaksud dengan pulau-pulau kesuksesan berikut itu? Ya, antara lain mendirikan pabrik-pabrik baru yang mampu menampung banyak pekerja dalam rangka menanggulangi kasus pengangguran, mendirikan bank-bank perkreditan rakyat yang membantu kelangsungan usaha rakyat kecil, mendirikan yayasan-yayasan yang membina kaum jompo dan yatim piatu, sekolah-sekolah dan last but not least… menyelenggarakan seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan kewirausahaan untuk berbagi pengetahuan serta pengalaman, agar banyak orang dapat mengikuti jejaknya menjadi pengusaha yang berhasil.