Monday, December 15, 2014

SINCEREPRENEUR

 
Tahukan Anda bahwa saat ini banyak istilah-istilah berkembang di kalangan kewirausahaan di dunia, yang sangat berhubungan dengan istilah entrepreneur? Dari sekian banyak istilah itu, terdapat antara lain kata-kata: intrapreneurship, yang membahas soal-soal semangat kewirausahaan di lingkungan perusahaan, ultrapreneurship, yang menunjukkan mutu kewirausahaan yang istimewa dari seorang entrepreneur dan ada lagi yang namanya ecopreneur. Yang terakhir ini ditujukan pada pengusaha-pengusaha yang peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Nah dalam kaitannya dengan pembahasan di atas, saya ingin berpartisipasi kepada dunia wirausaha dengan menyumbang sebuah istilah lagi, yang saya sebut dengan: sincerepreneur. Dan yang perlu saya tekankan di sini adalah bahwa ini bukanlah sekedar istilah, melainkan sebuah konsep. Yaitu konsep hidup yang seyogyanya dapat dilakoni oleh kita semua yang mengklaim diri sebagai entrepreneur.

Sincerepreneur berasal dari kata “sincere” yang berarti “tulus dan jujur” digabung dengan penggalan kata “entrepreneur”. Saya rasa mudah dimengerti apa yang saya maksud dengan istilah itu, yaitu tentang pengusaha yang benar-benar bekerja dengan hati yang tulus dan jujur, serta tidak untuk kepentingan diri sendiri saja, melainkan untuk dan mendahulukan kepentingan orang banyak. Secara pendek, konsep “sincerepreneur” adalah, “sekali kita berhasil memenuhi kebutuhan dasar untuk kehidupan kita dan keluarga, maka sejak itu pula kita mulai bekerja untuk orang lain..” Apa artinya?

Abraham Maslow telah membuat teori tentang kebutuhan manusia, yang disebut dengan segi tiga Maslow. Teori ini mengatakan bahwa kebutuhan manusia itu terdiri dari tingkatan-tingkatan. Yang pertama adalah kebutuhan dasar, meliputi makan, minum, pakaian dan lain sebagainya. Berikutnya adalah kebutuhan sosial, di mana orang perlu membangun hubungan-hubungan antar manusia guna menyempurnakan hajat hidupnya. Kemudian ada kebutuhan self esteem (pengakuan), aktualisasi diri serta kebutuhan spiritual.

Dalam konsep sincerepreneur, seorang usahawan mempunyai acuan bahwa setelah penghasilannya dapat menutupi kebutuhan dasar kehidupannya, artinya kebutuhan SPPK (sandang, pangan, papan dan kendaraan) nya terpenuhi, berikut kebutuhan keluarga seperti sekolah anak dan rekreasi ala kadarnya, maka sejak itu ia harus bekerja untuk kepentingan masyarakat. Uang lebih yang dimilikinya adalah milik masyarakat, yang harus ia gunakan untuk mendirikan perusahaan atau yayasan yang dapat menampung sebanyak-banyaknya orang bekerja. Meski pun ia tetap berhak menggunakan uangnya untuk apa pun yang ia anggap perlu, namun seyogyanya tidak menjurus kepada kepentingan pribadi yang berbau hura-hura, foya-foya, mengejar kenikmatan duniawi, atau pun yang bersifat mubazir.

Bagi seorang sincerepreneur, semua kegiatan yang berbau hura-hura dan mubazir, adalah dosa. Sebaliknya, semua kegiatan yang ditujukan atau ada kaitannya dengan membantu atau menolong orang lain, adalah wajib. Barangkali, hal demikian terdengar seperti mengada-ada dan sungguh sulit untuk dilakukan oleh sebagian besar orang. Tapi percayalah, orang perlu mengerti bahwa kebahagian dalam menolong orang lain adalah jauh lebih besar dari pada kebahagiaan dalam memperkaya diri sendiri. Kebahagian dalam berkorban adalah lebih nikmat dari pada kebahagiaan dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat egoisme. Kebahagiaan dalam bekerja untuk orang lain adalah kebahagiaan spiritual yang langgeng dan hakiki, sedangkan kebahagian bekerja untuk diri sendiri bersifat pemuasan nafsu sekejap yang tak pernah terpuaskan, bagaikan meminum air laut, makin diminum makin haus.

Selain itu, self esteem adalah hal yang perlu dihilangkan dari daftar prioritas, karena sincerepreneur bekerja tanpa pamrih, tidak mengejar popularitas. Aktualisasi diri merupakan wahana untuk berkontribusi sebanyak-banyaknya kepada umat manusia, sedangkan spiritual merupakan tahap akhir dari semua karyanya yang dipersembahkan kepada Tuhan.

Ciri-ciri dari seorang sincerepreneur antara lain adalah tidak pernah mengumbar ekspresi kesuksesan dalam bentuk-bentuk kepemilikan yang berlebihan seperti rumah dan mobil mewah atau gaya hidup eksklusif yang ingin membedakan dirinya dari kebanyakan orang yang dianggap belum sukses. Meski pun secara ekonomi seorang sincerepreneur sudah sangat mapan, namun dalam penampilannya hanya sebatas citra seorang kelas menengah dengan berbagai fasilitas yang juga sebatas citra kalangan menengah.