Categories

Kumpulan Mata Pelajaran Sekolah.

Download Software

Download E-Book Dan Software Pelajaran Untuk Komputer dan Handphone.

Motivasi

Artikel motivasi untuk kita selalu semangat meraih cita-cita

Tentang Kami

Profile Kami, Visi Misi, Partner dan Kontak kami.

News

Berita Tentang pendidikan Terbaru dan lain-lain.

Showing posts with label ilmu bisnis ekonomi. Show all posts
Showing posts with label ilmu bisnis ekonomi. Show all posts

Tuesday, December 16, 2014

Tujuh Pelajaran Penting dalam Bisnis Anda

Dalam suatu bisnis adalah hal biasa jika memperoleh kerugian dalam  operasi bisnisnya, namun manajemen harus bisa menarik pembelajaran dari setiap kerugian yang terjadi. Tanpa proses pembelajaran dari setiap kerugian yang terjadi, perusahaan akan mengulangi kesalahan yang sama. Kegagalan atau kerugian dalam setiap kasus bisnis bersifat unik, ada yang terungkap dalam beberapa hari saja, namun ada pula yang berlangsung dalam jangka panjang yang bisa membuat perusahaan bangkrut.

Dari berbagai kasus, kita dapat menarik tema yang sama dari kasus tersebut, yang dibagi dalam tujuh pelajaran penting. Adapun ketujuh hal yang perlu dilakukan  yaitu:
  1. Kenali bisnis anda
  2. Kembangkan sistem checks and balances
  3. Tetapkan limit dan ruang lingkup
  4. Fokus pada kas anda
  5. Gunakan ukuran yang tepat
  6. Berikan kompensasi sesuai kinerja yang anda kehendaki
  7. Ciptakan keseimbangan yin dan yang.

Pelajaran 1: Kenali Bisnis Anda

Kenali bisnis anda bukan hanya penting untuk manajemen yang bertanggung jawab untuk mengawasi dan mengambil keputusan bisnis, namun juga penting untuk  seluruh karyawan. Mengapa? Karena karyawan perlu mengetahui bagaimana akuntabilitas mereka bisa berdampak akan kemajuan bisnis perusahaan, dan bagaimana fungsi dan tanggung jawab mereka dengan pihak-pihak lainnya di dalam organisasi.

Kegagalan mengenali bisnis ini merupakan faktor penting dalam bencana yang dialami Kidder, Peabody. Pimpinan penegakan hukum SEC (Securities and Exchange Commision) Gary Lynch melaporkan bahwa para penyelia tidak pernah memahami aktivitas transaksi  harian dan sumber keuntungan yang dibuatnya, sementara para auditor GE Capital benar-benar kurang memahami tentang perdagangan obligasi pemerintah. Secara tajam, laporan Lynch dengan tajam menyoroti kegagalan manajemen untuk mengawasi, memahami, memantau aktivitas di meja perdagangan.

Kita juga pernah melihat bagaimana Pimpinan tak mengenali apa yang  kemungkinan dapat dilakukan oleh bawahannya sehari-hari. Seorang Pimpinan, tidak bisa hanya sekedar mendelegasikan wewenang, dan hanya mengontrol dari jarak jauh, namun sewaktu-waktu seorang Pimpinan harus memahami dan mengetahui risiko yang mungkin terjadi pada pekerjaan yang dilakukan oleh bawahannya. Dalam proses ini, melakukan cuti wajib atau mutasi perlu dilakukan, untuk memberikan “jeda”, serta bisa melihat pekerjaan yang telah dilakukan oleh orang sebelumnya. Banyak kejadian, permasalahan baru diketahui, setelah orang yang bersangkutan di mutasikan ke tempat lain. Bagi orang yang baru dipindahkan ke tempat baru, pertama-tama adalah mempelajari dulu sistim prosedur di tempat baru, proses bisnis yang dilakukan oleh bawahan di tempat yang baru, melihat apakah semua telah berjalan normal dan sesuai aturan yang ditetapkan. Hal ini dilakukan, karena orang yang baru menggantikan tak ingin kena getahnya, karena kesalahan orang yang digantikan terdahulu.

Pelajaran 2: Kembangkan sistem checks dan balance

Sistem checks and balance, mencegah individu atau kelompok tertentu memiliki wewenang berlebihan dalam mengambil risiko atas nama organisasi. Langkah ini juga merupakan upaya diversifikasi portofolio orang and proses. Sistem checks and balance, bersama-sama dengan pemisahan tugas utama, bukan hanya menjaga terjadinya kesalahan oleh manusia,  proses dan sistem, namun sangat penting untuk tercapainya manajemen yang sehat. Kehancuran Barings Bank dapat menjadi contoh dari prinsip ini. Fungsi perdagangan maupun akuntansi di cabang Barings BankSingapura bertanggung jawab pada Nick Leeson, yang memungkinkan menyembunyikan kerugian menumpuk selama setahun.

Fungsi checks and balance ini, kadang dikenal juga dengan istilah built in control. Ada pemisahan antara maker, checker dan signer. Andaikata kekurangan karyawan, maka minimal harus ada dua pihak independen. Hal ini berlaku pula untuk pemisahan antara policy  (pembuat kebijakan), proses analisis (yang mengeksekusi), serta administrasi. Tanpa checks and balance, perusahaan akan kesulitan mendeteksi terjadinya risiko sejak dini, dan atas kesalahan siapa.

Pelajaran 3: Tetapkan Limit dan Ruang Lingkup

Bila strategi bisnis dan perencanaan produk memberikan “arah yang hendak dituju”, maka limit dan ruang lingkup memberikan tanda “kapan harus berhenti.” Limit risiko untuk kredit, antara lain risk adjusted limits oleh pihak ketiga, risk grade, industri dan Negara. Untuk risiko oprasional, batas risiko yang mencakup, antara lain: standar kualitas minimum untuk operasi, sistem, atau proses. Limit tersebut tidak hanya pada risiko finansial dan operasional, namun juga untuk mengendalikan risiko bisnis, misalnya standar untuk praktek penjualan dan keterbukaan produk. Ruang lingkup juga perlu dikembangkan untuk mengendalikan risiko organisasional, seperti kebijakan pengangkatan karyawan dalam hubungannya dengan pemeriksaan latar belakang calon karyawan, atau kebijakan pengakhiran hubungan kerja jika seorang karyawan melanggar kebijakan perusahaan. Tanpa batas dan ruang lingkup yang jelas, manajemen sebuah perusahaan yang sedang bertumbuh dengan cepat dapat disamakan dengan pengemudi tanpa rem.

Pendelegasian wewenang memang perlu, namun Pemberi delegasi tetap bertanggung jawab atas sebagian wewenang yang diberikan. Limit diperlukan untuk menetapkan standar, untuk menetapkan batas risiko yang dapat diserap. Pada berita akhir-akhir ini, kita bisa melihat, bahwa penanganan SDM sebuah perusahaan sangat unik. kita bisa melihat bagaimana ASTRA, walau ditinggal Pemimpinnya secara mendadak tetap berjalan. Di satu sisi ada perusahaan yang menanggung risiko karena pemberian limit yang berlebihan pada salah satu manager. Walau seorang manager dianggap handal dan berkualitas, tetap ada batas risiko yang bisa diserap oleh perusahaan.

Pelajaran 4: Fokus pada Kas Anda

Seorang perampok terkenal pernah ditanya, mengapa dia merampok Bank. Jawabannya, “karena disana ada uang.” Jawaban sederhana ini mengandung pelajaran penting bagi seluruh institusi keuangan maupun bagian keuangan peruahaan. Kejahatan, baik fraud (penipuan), penyalahgunaan, atau pencurian, mengikuti kas. Kesalahan perdagangan dan operasional perusahaan akan terasa akibatnya bila membawa dampak terhadap kas. Oleh karena itu,  penting untuk memastikan bahwa terdapat mekanisme pengelolaan posisi dan arus kas yang memadai di perusahaan mencakup mekanisme pengendalian, berupa otorisasi pengajuan, persetujuan, dan pelaksanaan transfer: proses internal untuk mengukur, memantau, merekonsiliasi, dan mencatat/mendokumentasi transaksi kas.

Teknologi baru seperti e-commerce, electronic banking dan smart cardsmenghadapkan institusi keuangan pada tantangan baru. Manajemen keuangan dan kas yang tidak memadai membuka peluang untuk tindakan curang yang tidak terlacak, serta menjadi wilayah “buta” untuk kesalahan perdagangan operasional. Selang waktu panjang antara laba yang dilaporkan dan arus kas aktual harus menjadi perhatian pada perusahaan apapun.

Mengutip seorang analis, “Cash is king. Accounting is opinion.” Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal istilah cash flow, benar-benar aliran kas keluar masuk. Jika pada neraca dan rugi laba terlihat bagus, namun yang perlu dilihat adalah aliran kas riil, karena kas adalah darah perusahaan.

Pelajaran 5: Gunakan ukuran yang tepat

Ukuran kesuksesan yang digunakan oleh perusahaan untuk melacak kinerja individual dan kelompok merupakan pendorong  utama perilaku, dan juga pendorong utama risiko. Perusahaan sering menetapkan target kinerja berdasarkan tingkat penjualan, pendapatan, dan laba.  Ada pula yang melakukan pendekatan dengan balance scorecard, melengkapi ukuran finansial dengan ukuran kinerja yang terkait dengan kualitas, kepuasan pelanggan, dan proses internal lainnya. Jika manajemen ingin mendapatkan hasil yang tepat (perspektif risiko yang tepat), penting agar ukuran-ukuran risiko dimasukkan ke dalam berbagai proses yang menghasilkan laporan manajemen pengukuran kinerja. Serangkaian risiko yang terintegrasi dapat membantu manajemen dengan informasi yang tepat waktu, mengenai berbagai jenis risiko yang dihadapi perusahaan, termasuk indikator-indikator risiko aktual dan peringatan dini.

Penggunaan ukuran yang tidak tepat merupakan salah satu faktor yang membawaBausch & Lomb (perusahaan kacamata dan contact lens) kedalam kesulitan. Pemusatan perhatian pada target pendapatan, ditambah amosfir yang amat sangat menuntut, menghasilkan perilaku yang membawa dampak yang tidak diinginkan di berbagai tingkatan, dari ketidakpuasan pelanggan hingga harga saham.

Berbagai bencana yang menimpa perusahaan secara mendasar disebabkan oleh keinginan untuk sukses yang terlalu besar. Perusahaan yang menekankan pertumbuhan dengan segala cara (at all costs), membawa dampak pada berbagai kerugian pada perusahaan. Perusahaan lain secara regular menetapkan target pertumbuhan 15-20 persen setahun. Perusahaan ini hendaknya bertanya pada diri mereka sendiri, apakah target ini realistis bila perekonomian secara umum hanya tumbuh sekitar 3-4 persen? Tekanan seperti apa yang yang ditimbulkan target ini terhadap unit bisnis? Bagaimana sikap perilaku karyawan bila sasaran penjualan dan pendapatan yang agresif tidak diimbangi dengan sistem pengendalian dan ukuran risiko yang memadai?

Pelajaran 6: Berikan kompensasi sesuai dengan kinerja yang anda kehendaki

Sisi lain pengukuran kinerja adalah wacana mengenai kompensasi dan insentif. Organisasi perlu merancang dengan cermat bagaimana merencanakan dan menerapkan kompensasi dan insentif, apakah kompensasi dan insentif mempertegas perilaku dan kinerja yang diharapkan. Kombinasi pengukuran kinerja dan kompensasi  insentif merupakan salah satu pendorong untuk perubahan perilaku dan organisasi, yang dapat mendukung tercapainya berbagai sasaran manajemen risiko atau sebaliknya.

Perusahaan perlu mengantisipasi dan memperhatikan dengan cermat, berbagai sinyal yang dikirimkan sistem pengukuran kinerja dan kompensasi insentif, untuk memastikan bahwa sistem tersebut konsisten dengan sasaran-saran bisnis dan manajemen risiko perusahaan. Seorang Profesor di UCLA pernah mengatakan, “Jika anda berada di suatu perusahaan dan melihat orang-orang pintar tengah melakukan hal-hal bodoh, 9 kali dari 10 kejadian, karena mereka dibayar untuk melakukan hal tersebut.” Struktur insentif yang tidak tepat merupakan akar permsalahan terkait dengan kurang kemandirian riset saham, sebagai contoh, analis saham merekomendasi suatu saham kepada nasabah, tetapi mereka sendiri secara pribadi melepaskan saham tersebut.

Pemberian target yang menantang, namun bisa dicapai, perlu penelitian dan perhitungan yang tepat. Pemberian target yang terlalu tinggi juga membahayakan, karena bawahan akan melakukan pada bidang-bidang yang kemungkinan berisiko tinggi, agar target tercapai. Tak ada artinya target tercapai, namun satu atau dua tahun kemudian timbul masalah.

Pelajaran 7: Ciptakan keseimbangan Yin dan Yang

Fokus manajemen risiko saat ini adalah pengembangan infrastruktur: fungsi manajemen risiko yang independen dan komite-komite pengawas, penilaian risiko dan audit, kebijakan dan prosedur manajemen risiko, sistem dan model, pengukuran dan pelaporan, limit risiko serta proses pengecualian (exception). Semua ini membentuk sisi keras atau hard side (yin) manajemen risiko. Setara dengan itu, perusahaan perlu memberikan perhatian pada sisi lunak atau soft side (yang) manajemen risiko.

Sisi lunak manajemen risiko, mencakup:
  • Pemberian contoh dan pengembangan kesadaran melaui demonstrasi komitmen manajemen senior.
  • Penetapan prinsip yang akan memadukan budaya dan nilai-nilai risiko perusahaan.
  • Memfasilitasi komunikasi terbuka dalam membahas wacana seputar risiko, eskalasi eksposur, dan berbagi pengalaman serta praktik terbaik.
  • Penyediaan program pelatihan dan pengembangan
  • Penegasan perilaku dan hasil yang diinginkan dengan pengukuran kinerja dan insentif.

Soft side  fokus pada orang, keahlian, budaya, nilai dan insentif. Dalam banyak hal, komponen soft side merupakan pendorong (drivers) utama kegiatan pengambilan risiko, sementara komponen hard side sebagai faktor yang memungkinkan (enablers), yang mendukung aktivitas manajemen risiko. “Tidak ada hasil tanpa risiko, tetapi risiko hendaknya diambil tidak secara serampangan atau acak.” Itu berarti Yin dan Yang dalam manajemen risiko diperlukan, para managerhendaknya mengambil pendekatan yang seimbang dalam mengelola risiko di perusahaan.
 
Sumber: mohariefmasulili.blogspot.com

Manajemen Bisnis – Prinsip dan Standarisasi Manajemen Perusahaan


Management Bisnis
Bisnis merupakan kegiatan dalam menjual produk atau jasa agar memberikan keuntungan bagi pemiliknya. Bisnis merupakan kegiatan beresiko memberikan kerugian baik dari segi material atau non-material. Namun bila berhasil maka akan memberikan keuntungan dan kesejahteraan bagi pemiliknya. Agar terhindar dari resiko bisnis maka bisnis harus dijalankan dengan tepat dengan perencanaan yang matang dan pelaksanaan yang serius dan mantap. Bisnis terdiri atas beberapa komponen penting yang saling mendukung dan melengkapi. Bila salah satu komponen gagal maka akan mengganggu komponen lain. Berikut adalah komponen-komponen bisnis tersebut:

Manajemen, yaitu bagian yang merencanakan, mengelola, dan menjalankan bisnis. Komponen ini bisa disebut sebagai backend yaitu komponen yang berada di belakang layar.
Kekuatan brand atau image, yaitu karisma, kekuatan emosional yang dimiliki oleh perusahaan dan merupakan pandangan/perasaan masyarakat terhadap perusahaan atau produk. Produk atau Layanan, komponen yang dijual atau ditawarkan kepada pasar. Komponen ini bisa disebut sebagai front end karena komponen ini berada didepan. Komponen inilah yang berhadapan dengan masyarakat.
Partner, yaitu pihak yang ikut membantu dalam menjalankan bisnis.
Pelanggan, yaitu pihak yang akan menerima tawaran atau membeli produk dan layanan yang ditawarkan.

 
Manajemen

Manajemen suatu perusahaan adalah nyawa dari suatu perusahaan. Manajemen yang menentukan pertumbuhan atau kebangkrutan suatu perusahaan. Dengan adanya suatu pengelolaan dan manajemen yang baik maka suatu perusahaan akan mampu bertahan dari segala tekanan, kendala, dan rintangan yang ada. Bahkan akan berkembang menjadi lebih besar dan lebih baik lagi. Dalam mengelola perusahaan maka ada prinsip dan standarisasi dimana hal-hal tersebut akan sangat membantu perkembangan perusahaan bila diterapkan dengan baik. Prisip dan standar ini bukanlah nilai mutlak dalam kesuksesan suatu perusahaan. Tidak selamanya suatu perusahaan yang telah melakukan segala sesuatunya dengan baik akan sukses. Terkadang ada beberapa kendala atau halangan yang tidak dapat dihindari contohnya tertipu rekan kerja atau tertimpa bencana serta kendala-kendala lainnya. Berikut adalah beberapa prinsip dan standarisasi yang diharapkan mampu mendukung kemajuan dan perkembangan suatu perusahaan:

 
Perancanaan yang Matang 
Sebelum suatu perusahaan berdiri maka biasanya modal merupakan kendala awal yang harus dipenuhi sebelum perusahaan berjalan. Tidak selamanya modal besar pasti memberikan keuntungan besar. Pengelolaan modal yang efektif dan efisien akan memberikan keuntungan yang maksimal. Untuk kita kita harus melakukan perhitungan modal dan biaya yang diperlukan untuk operasional perusahaan dalam jangka beberapa waktu ke depan. Kita harus mampu memberikan anggaran yang aman untuk operasional perusahaan dalam beberapa waktu kedepan. Jadi bukan mengamankan anggaran hanya untuk hari ini dan besok. Dengan adanya pengamanan anggaran dalam jangka panjang maka perusahaan akan mampu bertahan bila mengalami kendala atau bencana yang sifatnya mendadak dan tidak diperhitungkan sebelumnya.
 
Dengan melakukan perencanaan dan perancangan perusahaan secara matang maka perusahaan akan siap menghadapi berbagai kendala dan rintangan karena telah diperhitungkan sebelumnya. Misalnya dalam membuat suatu produk maka kita harus melakukan penelitian terlebih dahulu mengenai pasar, konsumen, produk pesaing, dan kendala-kendala yang mungkin akan muncul agar produk kita tepat sasaran dan tidak gugur bila terkena berbagai tekanan dan kendala yang muncul. Saat ini penggunaan teknologi informasi dalam kegiatan bisnis mampu memudahkan dan mempercepat perencanaan perusahaan. Sistem yang digunakan disebut Enterprise Resource Planning(ERP) dimana sistem ini melakukan perencanaan dengan konsep Manajemen Operasional dengan suatu aplikasi yang terintegrasi. Beberapa kegiatan manajemen dapat terbantu dengan sistem ini seperti inventory management, financial management, reporting, manufacturing management, dan kegiatan lainnya.

  
Sumber Daya Manusia yang Berkualitas, Loyal, dan Sejahtera.
 
Sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas merupakan kunci penggerak perusahaan. Dengan adanya SDM yang mampu menggerakkan perusahaan dengan baik maka suatu perusahaan akan mampu berkembang dan melakukan bisnisnya dengan efektif dan efisien. SDM yang berkualitas tidaklah cukup untuk menjalankan perusahaan dalam jangka panjang. Diperlukan loyalitas pegawai terhadap perusahaan tempat dimana dia bekerja. Dengan membangun hubungan emosional antara perusahaan dan pegawainya maka seorang pegawai akan berusaha semaksimal mungkin memberikan kontribusi terbaik buat perusahaan. Tanpa adanya hubungan emosional antara perusahaan dan pegawai maka pegawai hanya menjalankan kewajibannya tanpa memberikan seluruh kemampuannya untuk perusahaan. Bila kewajibannya telah dilakukan maka dia hanya akan berjalan ditempat tanpa memberikan inovasi, kreatifitas, dan ide cemerlang yang sebenarnya bisa dilakukan bila pegawai memiliki ikatan emosional yang membuat dia ingin ikut membangun dan mengembangkan perusahaan menjadi lebih baik.
 
Sumber daya manusia yang berkualitas, dan loyal belum tentu dapat memberikan kontribusi terbaik yang dimilikinya. Manusia yang memiliki kebutuhan tentu akan berusaha agar dapat memenuhi segala kebutuhannya. Bila seorang pegawai merasa bahwa penghasilan yang dimilikinya tidak memenuhi kebutuhannya maka tentu dia akan berusaha untuk mencari jalan agar dapat memenuhi seluruh kebutuhannya. Bila hal ini terjadi maka pegawai mencari kerja sampingan yang akan menyita waktu, pikiran, dan tenaganya sehingga ia tidak dapat memberikan kemampuannya secara maksimal pada perusahaan. Mengapa terkadang beberapa perusahaan melakukan meeting, atau penyusunan anggaran di hotel padahal kantor mereka memiliki fasilitas yang sama dengan hotel? Mungkin buat sebagian orang hal ini adalah pemborosan, tapi dampak baiknya adalah para peserta meeting atau rapat akan lebih berkosentrasi dan memberikan pemikiran mereka secara maksimal tanpa terganggu oleh masalah lainnya seperti macet di perjalanan ke kantor, permasalahan di rumah, dan kendala-kendala di luar perusahaan. Dengan adanya dukungan dari perusahaan agar pegawai tidak dipusingkan oleh hal-hal lain diluar perusahaan maka pegawai diharapkan dapat memberikan kontribusi maksimal buat perkembangan perusahaan.
 
 
Manager yang Terbuka, Tegas, dan Demokrat
 
Kepemimpinan seorang manager merupakan penunjuk jalan yang benar bagi perusahaan. Mereka adalah nakhoda kapal yang akan menentukan apakah perusahaan akan mencapai tujuan atau tidak. Jiwa kepemimpinan yang berwibawa harus dimiliki oleh seorang manager perusahaan, namun dengan wibawa bukan berarti bersikap tertutup terhadap pegawainya. Justru sikap terbuka seorang pemimpin yang mau menerima masukan dan saran dari bawahannya akan membantu seorang manager dalam memimpin perusahaan atau departement yang dibawahinya. Ketegasan dalam memimpin dan mengambil keputusan sangat diperlukan oleh seorang manager, karena di tangan mereka keputusan akan jalan yang ditempuh oleh perusahaan akan menentukan perkembangan dan operasional perusahaan. Manager juga harus dapat mempertanggung jawabkan keputusan mereka di depan direksi tidak melulu menyalahkan bawahan yang tidak becus melakukan perintahnya. Sebaiknya setiap pengambilan keputusan melibatkan banyak pihak, baik itu bawahan ataupun pihak lain yang terkait. Dengan adanya masukan dari yang lain maka manager dapat mempertimbangkan dan mengambil keputusan yang tepat dan memuaskan banyak pihak.
 
Hubungan antara manager dan bawahan juga harus baik dan terjaga. Sebisa mungkin ada hubungan 2 arah antara manager dan bawahan, bukan hubungan searah dimana manager terus-terusan memberi perintah kepada bawahan tanpa mau mendengar keluhan dan perasaan bawahannya. Bila ada hubungan harmonis seperti keluarga dalam suatu perusahaan maka akan tercipta team kerja yang solid dan kuat dalam menjalankan perusahaan.
     
 
Lingkungan Kerja yang Nyaman dan Mendukung
 
Seorang pekerja menghabiskan hampir setengah hidupnya dalam sehari berada di kantor. Sehingga kantor merupakan tempat kedua setelah rumah yang menjadi tempat terlama dimana pekerja berada. Untuk itu lingkungan kantor yang nyaman, kondusif, dan mendukung pekerjaan mutlak diperlukan. Lingkungan kerja bukan berarti hanya kantor saja, akan tetapi termasuk suasana kerja, dan hubungan antar pegawai perusahaan. Bila salah satu bagian dari lingkungan kerja tersebut ada yang membuat tidak nyaman seorang pekerja maka akan berdampak terhadap menurunnya kinerja dan kontribusi pegawai tersebut terhadap perusahaan.
 
Kantor adalah tempat bekerja dimana kenyamanan kantor bergantung pada kebersihan, kerapian, ketenangan, keindahan, suhu dan udara yang sesuai, serta tata letak furniture dan ruangan yang baik. Perangkat kerja yang mendukung juga perlu diperhatikan. Jangan memaksakan penghematan terhadap perangkat kantor yang dapat menghambat pekerja. Beberapa perusahaan terkadang mempertahankan komputer tua yang suka crash dengan alasan masih dapat dipakai padahal justru kelambatan dan tuanya perangkat membuat waktu bekerja dan terkadang menghambat pekerja pada saat perangkat tua tersebut rusak. Kantor yang nyaman akan membuat pegawai betah dan tidak terburu-buru ingin meninggalkan kantor sehingga pekerja lebih berkosentrasi dalam melakukan pekerjaannya. Suasana kekeluargaan di kantor perlu dibina agar pegawai merasa sebagai bagian dari perusahaan dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap perusahaan untuk menjaga nama baik perusahaan. Jangan sampai ada sifat iri, sinis, atau ada pertikaian antar pegawai karena akan mengganggu pekerjaan dan kinerja perusahaan.
 
Perlu diperhatikan juga bagaimana pegawai berangkat dan pulang dari kantor. Bila pegawai tinggal terlalu jauh dari kantor maka perlu dipikirkan bagaimana bila terkendala macet dan terlambat sampai dikantor. Ada baiknya perusahaan menyediakan jemputan karyawan karena selain membantu karyawan juga akan mengakrabkan karyawan karena ada waktu bercerita dalam perjalanan dari atau ke kantor.

 
Terbuka dan Selalu Belajar 
Perkembangan dunia bisnis begitu cepat. Begitu banyak bidang yang mendukung suatu bisnis misalnya bidang teknologi informasi. Begitu banyak perubahan yang terjadi diluar perusahaan, karena itu kita tidak boleh tertutup dan harus berusaha menerima perubahan yang ada. Dengan selalu mempelajari perubahan dan perkembangan maka suatu perusahaan akan dapat bersaing dengan perusahaan lain dan tidak tertinggal oleh tren dan perkembangan yang terus berjalan. Perusahaan harus mempelajari dan menerapkan berbagai perkembangan dan perubahan yang mampu memberikan manfaat yang efektif dan efisien bagi perusahaan. Dengan demikian maka perusahaan akan selalu dapat berkembang, dan berjalan seiring dengan perubahan dan perkembangan yang ada.

Manajemen Proses Bisnis 
Iklim kompetisi menuntut tidak saja barang dan jasa yang berkualitas tetapi juga kecepatan layanan disamping harga yang murah. Untuk dapat mencapai taraf kompetitif seperti ini, organisasi mau tidak mau harus inward looking dengan mengoptimalkan operasi bisnis di tiap lininya, memperbaiki dan menstabilkan kualitas dan reliabilitas sistem. Optimalisasi ini mencakup kelengkapan kendali proses, solusi jangka panjang yang berkelanjutan, minimalisasi tidak saja error tetapi juga limbah dan pengerjaan ulang, efisiensi waktu, dan penghapusan aktivitas yang tidak memberi nilai tambah.

Siklus dari inisiatif perbaikan proses secara garis besar terbagi dalam tiga aktivitas utama, discovery and design, deploy and execute, dan monitor and control. Discovery dimulai dengan mengidentifikasi keperluan dari proses tersebut. Mulai dari pendorong, tata nilai, strategi, sampai hasil dari bisnis organisasi. Identifikasi ini akan mendukung “raison d’etre” dari proses tersebut. Selanjutnya identifikasi tadi diikuti oleh inventarisasi dari proses yang sudah berjalan baik itu proses utama maupun proses pendukung. Inventarisasi ini lebih bersifat memotret bagaimana alur kerjanya, berapa biaya yang diperlukan, siklus waktunya dan lain sebagainya. Selain itu perlu dipetakan, apakah suatu proses memberikan nilai tambah atau tidak.

Kategorisasi hasil value analysis ini bermanfaat untuk menentukan skala prioritas dalam perbaikan proses. Bahkan, bilamana perlu proses yang tidak memberi nilai tambah sejak tahap ini dapat segera dipangkas. Hanya saja perlu pertimbangan masak-masak sebelum memangkasnya. Tetapi juga tidak berarti harus berlama-lama membiarkan proses yang tidak mendatangkan nilai tambah ini semakin menjadi beban. Ibarat membiarkan barang yang sebetulnya tidak terpakai tapi dibuang sayang justru menjadikannya sampah yang membebani.

Hasil inventarisasi tadi ditindaklanjuti dengan menentukan siapa yang selanjutnya bertanggung jawab terhadap suatu proses (process ownership). Tanggung jawab pertama dari pemilik proses ini adalah membangun dan menanamkan kultur perbaikan berkelanjutan. Dengan semangat perbaikan berkelanjutan, sebagai standar parameter ditentukan indikator kinerja dari proses yang mencakup aspek waktu, biaya, dan kualitas. Kriteria dari standar ini dibuat jelas, terukur, dan dapat dijangkau. Sehingga berdasarkan standar tadi dapat dilakukan penilaian seberapa jauh kesenjangan kinerja dari proses yang selama ini berjalan. Root cause analysis dapat dilakukan untuk mendapatkan faktor apa saja yang menjadi pemicunya. Dengan diketahuinya faktor pemicu ini peluang bagi perbaikan dapat diidentifikasi, apakah itu melalui adopsi teknologi, perbaikan praktek manajemen, perbaikan alur kerja, atau yang lainnya.

Tahap selanjutnya adalah desain model baru yang mampu mengoptimalkan kinerja dari proses bisnis sesuai dengan karakteristik yang telah ditemukan. Belajar dari pengalaman pihak lain melalui benchmark dengan “best practices” dari industri terkait akan membantu keluar dari inward looking trap, mengurangi resiko dan biaya serta menjaga perusahaan tetap berada dalam rel menuju pemenangan kompetisi.

Sebelum diimplementasikan, model baru tersebut disimulasikan, sebagai eksperimen terhadap perubahan yang terjadi, seberapa sukses perbaikan desain ini berjalan. Simulasi ini secara operasional akan mereduksi resiko dengan mengantisipasi kekurangan dari model yang baru. Jika simulasi berhasil maka model tersebut dapat diimplementasikan sambil dimonitor dengan analisa dan pengontrolan terhadap hasilnya. Masih dalam semangat dan siklus perbaikan berkelanjutan.

Dalam setiap tahapan ini, sumber daya manusia memegang peranan sangat vital, baik dalam perannya sebagai Process Designer, Process Executor, maupun Process Manager. Dengan demikian pelatihan secara berkesinambungan dan dilaksanakan secara lintas sektoral sangat diperlukan untuk meningkatkan kompetensi mereka. Selain itu pemahaman mengenai persepsi karyawan menjadi menu wajib bagi perusahaan. Kebanggaan sebagai karyawan yang merasa ketrampilannya bernilai sebagai aset perusahaan haruslah mendapat perhatian yang proporsional. Kebanggaan dan perasaan berharga ini dapat meningkatkan engagement karyawan terhadap perusahaan dan dapat menjadi tali emosional yang sangat kuat untuk memacu motivasi internal. Membuatnya ’menikmati’ bekerja setiap hari dan merasakan bagaimana hasil kerjanya memberi nilai tambah bagi pelanggan. Jika seorang karyawan ’menikmati’ pekerjaannya tentu akan menumbuhkan kerelaan dalam melaksanakan tugas-tugasnya dengan sepenuh hati. Ketulusan dalam melayani pelanggan eksternal maupun internal akan meningkatkan kualitas layanan itu.

Tentu saja orientasi pelanggan ini tidak bisa dilupakan dalam manajemen proses bisnis, karena pelangganlah yang akan menentukan apakah nilai tambah dari perbaikan proses ini bermakna atau tidak. Pelanggan tidak mau tahu dengan proses, mereka hanya akan melihat keluarannya.

Monday, December 15, 2014

CARA GILA JADI PENGUSAHA



Beberapa hari yang lalu, saya membaca email di milis EU-2002 yang menawarkan DVD “Cara Gila Menjadi Pengusaha”. Karena saya adalah orang yang selalu tertarik dengan media-media yang membawakan berbagai content baru, saya coba order DVD tersebut melalui pesanan on-line. Ternyata, dalam waktu 48 jam, DVD sudah saya terima, sehingga pada malam harinya, ketika sudah agak santai, saya bisa mencoba untuk memutarnya di komputer saya.

Tokoh sentral dalam rekaman itu sudah tentu Purdi E. Chandra, pemilik lembaga pendidikan “Primagama” sekaligus pencetus ide “Cara Gila Jadi Pengusaha”. Pada pemunculannya di menit-menit pertama, saya terkesan bahwa penampilan Purdi “biasa-biasa” saja. Malah saya berfikir, tampaknya tokoh kita ini bukan tipe seorang presenter sebagaimana yang kita lihat dalam diri Kris Biantoro atau Farhan, lebih-lebih bukan juga tipe orator, seperti Bung Karno atau Fidel Castro misalnya. Maka, alih-alih dari melihat action beliau, saya coba untuk “hanya” mendengarkan materi pembicaraannya saja.

Lucu juga apa yang terjadi kemudian. Awalnya, saya sangat santai, bahkan terlalu santai ketika menyimak tanpa melihat ke layar, sambil mencoret-coret di atas kertas untuk keperluan kantor esok pagi. Namun tak lama, ibarat mesin diesel yang memerlukan beberapa waktu untuk menjadi panas, begitu pulalah perkembangan perhatian saya pada tayangan DVD tersebut. Lewat sepuluh menit sejak pembukaan, pembahasan Purdi makin menarik. Saya mulai meletakkan pena dan menoleh ke layar monitor. Lewat 30 menit, posisi duduk saya sudah sedemikian dekat dengan layar kaca, dan ketika bos Primagama ini mulai mengupas hal-hal yang berbau spiritual, saya sudah sangat terpaku menyimak penuh konsentrasi.

Tahukah Anda, bahwa akhirnya saya menghabiskan waktu menyaksikan DVD yang berdurasi lebih dari 3 jam itu, sampai pukul 1 lewat tengah malam? Dan non stop pula?

Banyak hal yang bisa saya tangkap dari tayangan DVD “Cara Gila..”, terutama sekali dari figur Purdi E. Chandra sendiri. Dan dari banyak hal tersebut, beberapa di antaranya saya kira perlu dicermati:

1) Purdi yang kita kenal sebagai sosok praktisi kewirausahaan, ternyata tidak saja memahami secara utuh tentang seluk beluk dunia bisnis dari segi teknis-praktis, namun lebih dari itu, ia juga mengerti dengan baik soal-soal yang menyangkut aspek spiritual. Di antaranya, ia mengatakan bahwa kalau seseorang ingin berhasil dalam berwirausaha, maka orang itu juga harus memperhatikan bahwa diperlukan aktivitas beramal, bersedekah atau kegiatan apa saja yang sifatnya memberi. Jangan sekali-kali berfikir ingin untung sendiri, hanya menerima tanpa pernah memberi pada orang lain. Sebab, alam selalu memerlukan perimbangan, kalau ada sesuatu yang masuk, maka seharusnya juga ada yang keluar Kalau ada yang tercurah ke bawah, maka seharusnya juga ada yang menguap ke atas. Sebagaimana alam mengatur air hujan yang turun ke bumi, mengisi sungai dan laut, menguap karena terkena panas matahari, berubah menjadi awan, untuk kemudian terjadi kondensasi dan akhirnya turun menjadi air hujan kembali. Dengan begitu, siklus alam ini berjalan dengan baik, tidak ada yang tersumbat. Siklus yang secara fisika kita sebut dengan “ecosystem”, suatu sistem universal yang mengatur perimbangan interaksi berbagai unsur yang terdapat di alam ini. Purdi sangat yakin bahwa sistem yang sama berlaku pula dalam dunia tak kasat mata, bahwa sebuah “spiritual ecosystem” juga berjalan secara harmonis. Sebuah sistem yang memberi pengaruh kuat atas segala fenomena yang terjadi di muka bumi, tidak terkecuali di dunia usaha. Chin Ning Chu, pimpinan perusahaan Asian Marketing Consultant, dalam karyanya “Thick Face Black Heart” (Muka Tebal Hati Hitam) menulis tentang hal yang sejalan dengan keyakinan Purdi. Chin menamakan fenomena spiritual itu dengan “darma”, yaitu sebuah hukum perimbangan yang mutlak terjadi menurut ketentuan-ketentuan alam. Siapa yang menanam, dia akan menuai. Sebaliknya, siapa ingin menuai, maka ia harus menanam terlebih dahulu. Demikian seterusnya. Lebih jauh, pendiri Primagama ini juga berusaha menyadarkan audiens bahwa semua sistem keseimbangan alam itu berasal hanya dari satu sumber saja, yaitu Sang Maha Sistem, Sang Penguasa Alam Semesta yang kita sebut dengan Tuhan. Maka, Purdi mengajak semua pendengarnya untuk meningkatkan spiritualisme terhadap Tuhan dengan berzikir, memuji kebesaran Allah sebanyak-banyaknya, kapan saja dan di mana saja. Ini luar biasa, sebab hampir semua wirausahawan top di dunia ini adalah orang-orang yang menjunjung tinggi spiritualisme. Ambil contoh, DR. An Wang (Wang Computers) dan Stan Shih (Acer) adalah penganut-penganut konfusianisme yang kental. Ternyata, Purdi mengerti itu!
2) Seminar tersebut dinamakan “Cara Gila Menjadi Pengusaha”, oleh karenanya tidak heran kalau pembicaranya juga menyebut-nyebut soal kegilaan dalam memulai usaha. Kalau tidak hati-hati, orang bisa saja menerjemahkan “gila” itu sebagai “gila-gilaan”, yang berkonotasi sebuah kenekatan tanpa perhitungan, kesemberonoan atau sebuah tindakan berjibaku tanpa mempedulikan lagi akibat-akibatnya. Apakah demikian? Entah karena memang sulit, atau karena yakin bahwa pendengarnya adalah orang-orang yang cerdas semua, saya tidak melihat Purdi E. Chandra menjabarkan lebih jauh tentang makna kegilaannya itu secara eksplisit. Ini tentu cukup riskan. Sebab, salah-salah, sebagian orang akan benar-benar mengartikan kegilaan itu sebagai tindakan pasukan jibaku-tai, tindakan bertaruh nyawa secara untung-untungan tanpa mikir! Meski demikian, saya kagum dengan cara tokoh ini mengistilahkan kata-kata simpel “gila”. Saya yakin, bahwa itulah cara Purdi untuk mensimplifikasi sebuah konsep kreativitas, yang oleh Edward De Bono diistilahkan dengan kata-kata “lateral thinking”. Coba perhatikan apa yang dikatakan oleh Edward: “…we have not yet paid serious attention to creativity. The first and most powerful reason is that every valuable creativity idea must always be logical in hindsight. If not logical in hindsight, then it would simply be a crazy idea..” Kita belum memberikan perhatian serius atas kreativitas. Penyebab utamanya adalah kita selalu beranggapan bahwa ide yang kreatif itu harus masuk akal, jika tidak masuk akal, maka itu hanyalah sebuah ide gila..! Edward De Bono memang pakar kreativitas. Ia mengerti sekali, bahwa kreativitas yang paling berharga itu hanya berjarak tipis terhadap kegilaan. Dan kegilaan Edward telah ia buktikan sendiri ketika ia mencetuskan ide untuk memasang lift di bagian luar gedung, bukan di dalam, demi menjawab tantangan penghematan ruang. Terbukti sekarang kita lihat berbagai gedung perkantoran, mal dan pusat perbelanjaan memasang liftnya di bagian luar gedung. Dengan kegilaan yang sama, UNITED COLORS OF BENETTON mendirikan banyak sekali gerai-gerai kecil dengan paduan warna-warni yang memikat hati. Dengan kegilaan yang sama, Pepsi menggelar pertunjukan super kolosal sang maha bintang Michael Jackson demi mengangkat citra produk minumannya. Dan dengan kegilaan yang sama pula, Purdi E. Chandra mengembangkan franchising Primagama ke seluruh Indonesia.
3) Bagaimana pula dengan istilah “kaya” dan “malas”? Intuisi saya mengatakan bahwa kalau orang sekaliber Purdi mengatakan “kaya”, maka yang dikatakannya itu adalah “kaya” (dengan tanda kutip) bukan kaya (tanpa tanda kutip). Apa artinya? “Kaya” artinya sejahtera bersama, paling tidak mereka yang memiliki kelebihan mau berbagi dengan mereka yang kekurangan. Sedangkan kaya berarti mereka yang ingin makmur sendiri, hanya menerima tanpa mau memberi, egois, hura-hura sendiri, plesir sendiri dan akhirnya mati sendiri pula. Demikian juga dengan perbedaan antara “malas” dengan malas. “Malas” artinya bekerja dengan ide dan gagasan, dengan otak bukan dengan otot, smart work, efektif dan efisien. Sedangkan malas adalah kemalasan ala si Kabayan, tidur sepanjang hari dari pagi sampai ke pagi lagi, tanpa pernah menggunakan baik otot mau pun otaknya.

Kesimpulan final yang dapat saya tarik dari DVD “Cara Gila Menjadi Pengusaha” adalah tidak terbatas dari sekadar mengatakan bahwa figur Purdi E. Chandra itu sebagai figur yang hebat dan monumental, tapi lebih dari itu saya ingin menyampaikan bahwa berbahagialah bangsa Indonesia ini yang masih diberi kesempatan untuk memiliki sosok wirausahawan seperti dia. Sosok yang dalam kesuksesannya, masih mau berbagi dengan sesama, agar banyak orang juga berkesempatan meraih sukses serupa. Dibutuhkan lebih banyak lagi Purdi-Purdi lain, agar bangsa tercinta ini dapat segera bangkit dari keterpurukan yang sudah berlarut-larut. Saya juga ingin menyampaikan selamat kepada warga EU, yang sudah dikaruniai Tuhan untuk bertemu dan belajar tentang sukses dari orang sukses seperti Purdi. Semoga akan segera muncul Purdi-Purdi junior yang akan menyusul jejak sang “Mbah” menggalang kekuatan ekonomi bangsa melalui kewirausahaan.

Skandal Adam dan Hawa ( “Karena serakah kawan saya bangkrut” )

Kita semua tentu ingat akan kisah Nabi Adam dan isterinya Siti Hawa. Kedua insan nenek moyang bangsa manusia ini hidup tenteram bergelimang nikmat tiada tara di surga yang dilimpahkan oleh Tuhan, Allah SWT. Mau makan, tinggal makan; karena di sana sudah tersedia berbagai jenis buah-buahan nan lezat, harum dan segar. Mau minum, ya tinggal minum; sebab di situ terdapat sungai yang di dalamnya mengalir “nectar” dengan cita rasanya yang manis tak terperi. Tiada penyakit, tiada bencana, tiada kejahatan, tiada rasa khawatir, tiada ketakutan, tiada kecemasan. Pokoknya, segala yang ada hanyalah kenikmatan dan kesenangan belaka.

Dengan keadaan yang seperti itu, tentunya kita berfikir, tidak akan ada lagi hal apa pun yang diinginkan oleh Adam mau pun Hawa. Bayangkan saja, semua serba ada, serba tidak kekurangan dan semua serba menyenangkan!

Namun, apa lacur.. Sesosok makhluk yang namanya iblis telah menghancurkan segalanya. Dengan tutur kata menghanyutkan, iblis berhasil membangkitkan keinginan Adam dan Hawa untuk memperoleh buah larangan yang bernama “buah khuldi”. Dan ketika pada akhirnya keinginan itu dilaksanakan dengan memetik buah tersebut, Tuhan yang marah dengan serta merta mencampakkan keduanya ke bumi, ke dunia yang fana tempat di mana kita semua sekarang berada.

“Wahai Adam dan Hawa. Kalian telah bersalah dengan mengumbar nafsu keinginan yang berlebih-lebihan. Padahal, semua kebutuhanmu telah Aku penuhi dengan sebaik-baiknya. Ketahuilah, bahwa perilaku yang demikian itu disebut “serakah”. Sayang sekali, tiada tempat di surga ini bagi mereka yang serakah. Maka mulai hari ini, kalian Aku turunkan ke dunia yang fana, agar kalian dapat memperbaiki diri dengan jalan menghapus semua sifat serakah yang ada di batin kalian..” demikian Tuhan berkata.

Terlepas dari soal apakah kisah skandal Adam dan Hawa ini berlangsung persis sebagaimana diceritakan di atas atau tidak, ada satu hal yang perlu kita cermati. Yaitu moral dari cerita itu sendiri. Mari kita bahas hal-hal di bawah ini:
• Bahwa kita umat manusia yang sekarang “terpaksa” menghuni planet bumi, tidak lain tidak bukan adalah disebabkan oleh perilaku “serakah” yang muncul di benak nenek moyang kita, Adam dan Hawa. Dan bahwa Tuhan telah menentukan bahwa kita tidak akan dapat kembali menikmati kenikmatan surgawi, selama sifat serakah itu masih bersemayam. Maka tidak usahlah kita heran bahwa setelah ribuan tahun tinggal di bumi, sisa-sisa perilaku serakah itu masih masih tetap saja ada, yang dalam kenyataannya terwujud dalam tindakan korupsi, manipulasi, penipuan, mafia-isme, premanisme dan lain sebagainya.
• Bahwa umat manusia yang tidak ingin berubah dan tetap serakah, akan terus tinggal di bumi yang fana sampai nanti hari kiamat, di mana bumi yang sudah tua akan melebur dan berubah menjadi neraka.
• Hakikat kehidupan sebenarnya sederhana dan mudah, yaitu bahwa akar dari segala kejahatan yang ada di dunia ini adalah sifat serakah, yang apabila manusia mau menghilangkan dari benaknya, niscaya semua orang dengan serta merta akan diterima kembali oleh Tuhan di surganya yang maha indah. Itulah pula yang oleh Sang Buddha disebut sebagai “pohon keinginan” yang setiap saat harus diwaspadai, dipantau dan dikendalikan.

Nah, sekarang timbul pertanyaan, bagaimana caranya mengidentifikasi bahwa suatu tindakan itu dilandasi oleh sifat serakah?

Sebagaimana tindakan yang dilakukan Adam dan Hawa di Taman Firdaus dulu, maka suatu tindakan dapat digolongkan ke dalam kategori keserakahan, apabila tindakan dimaksud dilakukan semata-mata berdasarkan keinginan menambah-nambah kesenangan pribadi, padahal yang bersangkutan sudah berada dalam kesenangan dan kenikmatan yang lebih dari cukup.

Pertanyaan berikut mungkin muncul: “Lantas, apa yang bisa dilakukan oleh seseorang yang sudah berada dalam kesenangan dan kenikmatan, agar tindak-tanduk dan sepak-terjangnya tidak masuk dalam kategori keserakahan?” Jawabnya sederhana sekali: “Bekerjalah untuk orang lain, untuk masyarakat banyak. Pada tingkatan ini, semakin banyak yang Anda lakukan dan semakin tinggi prestasi yang Anda capai, akan semakin baiklah reputasi Anda dan semakin sejahtera pula masyarakat sekitar Anda..”

Dunia wirausaha adalah sebuah dunia yang sensitif terhadap keserakahan. Pengusaha yang “asyik dengan kesuksesan”, akan mudah sekali tergelincir masuk ke dalam kubangan keserakahan. Bermula dari keberhasilan meraih kesuksesan-kesuksesan kecil, merambah naik ke tingkatan kesuksesan-kesuksesan besar, seorang pengusaha sangat mungkin untuk segera berperilaku tak terkendali ditandai dengan dimulainya sepak terjang untuk menguasai lahan-lahan orang lain, membendung laju pertumbuhan pesaingnya dengan berbagai cara yang dihalalkan, bahkan sampai kepada upaya untuk mencaplok hak-hak milik masyarakat umum, seakan belum puas sebelum seluruh isi dunia ini menjadi miliknya.

Mudah untuk menemukan contoh tentang pengusaha-pengusaha serakah. Di zaman Orde Baru, pengusaha-pengusaha jenis ini bermunculan dalam jumlah yang sangat banyak. Begitu banyak, sehingga karena sepak terjang mereka begitu ganasnya, seorang Kwik Kian Gie sampai-sampai merasa perlu untuk menjuluki mereka dengan sebutan “business animals”. Dan bagi generasi muda sekarang, juga akan mudah mengenali mereka karena sebagian di antaranya telah berpindah tempat menjadi penghuni penjara, sebagian lagi menjadi buronan Interpol, serta ada juga yang telah meninggal dunia dalam pelarian, sebagaimana nasib orang-orang kaya yang terjebak dalam “money centered life”.

Vivere Peri Coloso

Almarhum Presiden Soekarno pernah mempopulerkan istilah “Vivere Peri Coloso”, sebuah istilah dalam bahasa Itali yang artinya lebih kurang: “nyerempet-nyerempet bahaya”. Dan begitulah sesungguhnya dunia usaha. Seorang pengusaha yang ingin tetap hadir dalam blantika bisnis, harus berani “nyerempet-nyerempet bahaya”. Memberikan pelayanan yang baik tanpa harus menyogok, bersaing harga tanpa harus melakukan “dumping” dan lain sebagainya. Dan untuk itu diperlukan naluri bisnis yang tinggi dan peka.

Kabar baiknya adalah bahwa para wirausahawan sejati ternyata arif dengan hal itu. Seorang adik saya yang dalam manuver “BODOL”nya menggandeng seorang “pangeran” dari dinasti Bakrie, menceritakan sesuatu yang menarik. Ia berkisah bahwa dalam sebuah rapat, sang pangeran memberikan pengarahannya bahwa dunia bisnis itu memang dunia yang penuh risiko, penuh dengan intrik, agitasi dan provokasi, sehingga diperlukan kelihayan tertentu untuk mengatasi semua itu. Namun begitu – demikian sang pangeran – bukan tidak mungkin suatu waktu, seorang pengusaha akan tersandung dan terjerembab ke dalam suatu manuver bisnis yang dapat menyebabkan dirinya disorot masyarakat sebagai tokoh bisnis yang memiliki kecenderungan serakah.

Oleh karenanya, untuk mencegah terjadinya hal-hal semacam itu, seorang pengusaha perlu selalu ingat, bahwa dirinya bekerja untuk orang lain, untuk masyarakat banyak. Dan itu harus diwujudkan dengan tindakan-tindakan nyata, seperti ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan sosial, misalnya dengan menyumbang ke panti-panti asuhan, menyokong dunia pendidikan, mendirikan tempat-tempat ibadah, rumah sakit dan lain sebagainya.

Syukur alhamdulillah, baru-baru ini majalah “Swa” memberitakan bahwa beberapa tokoh pengusaha sukses ternyata telah aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, yang secara langsung mau pun tidak langsung, telah menggambarkan diri mereka sebagai figur yang tidak serakah, karena telah nyata-nyata bekerja untuk kepentingan orang banyak. Di antara para pengusaha yang tampil sebagai philanthropist (dermawan) itu terdapat antara lain: Sudamek (Kacang Garuda), Jakob Oetama (Kompas), Martha Tilaar (Martina Berto), Raam Punjabi (Multivision Plus), Rudy J. Pesik (Birotika Semesta/DHL), Soedarpo Sastrosatomo (Samudera Indonesia), Sofyan Wanandi (Gemala Group) dan lain-lain.

Orang terkaya di dunia pun, Bill Gates, yang selama ini ditengarai sebagai tokoh bisnis yang serakah, ternyata merupakan seorang dermawan pula. Ia menyumbangkan banyak dana untuk kepentingan pemberantasan penyakit AIDS dan malaria, melalui “Bill and Melinda Gates Foundation”. Dan jangan kaget, kalau biang kerok krisis keuangan George Soros pun ternyata termasuk dalam barisan para philanthropist. Ia konon telah merelakan uangnya sebesar 5.40 milyar dolar Amerika untuk kepentingan sosial.

Kita berdoa, semoga makin banyak wirausahawan, kecil mau pun besar, yang tidak sudi terperosok ke dalam jebakan keserakahan, untuk makin menunjukkan dirinya sebagai pengusaha dermawan yang peduli pada sesama.

Sukses - lanjutannya?

 

“Sukses – apa lanjutannya?” Ini sebuah judul email yang menggelitik. Simpel, tapi susah jawabnya ya kan? Pertanyaan “sukses itu apa?”, sudah susah dijawab, apalagi lanjutannya..?

Nah, kalau kita mengacu kepada pendapat mayoritas masyarakat yang pada umumnya menganggap bahwa sukses itu identik dengan uang, maka ada baiknya kalau kita meninjau lebih jauh apa gerangan yang ada di balik itu semua. “Money oriented people” biasanya beranggapan bahwa pada saat Anda berhasil mengumpulkan sejumlah besar uang, maka di situlah letak kesuksesan Anda. Kesuksesan yang bersifat terminal, artinya Anda telah sampai ke titik akhir dari sebuah perjuangan panjang. Titik di mana Anda tidak perlu lagi bekerja, titik di mana Anda juga telah memperoleh kebebasan penuh, kebebasan untuk berbuat apa saja sekehendak hati. Mau tidur di saat orang lain sibuk pergi ke kantor, ya boleh saja. Mau jalan-jalan ke luar negeri atau main golf di saat orang lain sedang bersitegang di ruang rapat, ya nggak ada yang larang. Pokoknya, apa pun yang Anda mau lakukan, tidak akan ada yang keberatan. Istri, suami, kerabat, famili, pegawai, dan siapa pun, termasuk mertua pun pasti tak akan menegur, apalagi mencegah. Toh Anda sudah kaya, dan barangkali inilah yang kebanyakan orang mengartikannya sebagai indiksasi sebuah “financial freedom”. Kebebasan keuangan, merdeka secara finansial!

Bayangkan, sementara orang-orang lain masih menjadi budak uang, bekerja mati-matian setiap hari untuk dapat memburu uang, Anda justru telah berhasil menjajah uang, menyuruhnya bekerja untuk mengundang teman-temannya yang lain menjadi pekerja Anda. Hebat sekali kan?

Ya benar. Anda hebat. Hanya saja, kaya atau sukses itu sifatnya relatif. Tidak definitif. Sukses atau kesuksesan sudah pasti sulit untuk dibuatkan tolok ukurnya. Kalau kaya? Bisakah diambilkan angka-angka yang bisa mewakili kesuksesan kita?

Kalau si Badu yang berpenghasilan 2 juta rupiah sebulan, berjalan-jalan di sebuah perkampungan kumuh yang penduduknya banyak busung lapar, maka dia mungkin akan merasa dialah orang terkaya di lingkungan itu. Tapi kalau ia kemudian melintas di kompleks elit semacam Pondok Indah Jakarta, kemungkinan besar ia akan merasa berubah miskin seketika itu juga. Seorang teman yang pengusaha, selama ini merasa telah mencapai tingkatan hidup yang “financial free” sehingga mengekspresikannya dengan bepergian ke luar negeri berulang kali setiap tahun. Namun suatu saat, ia berkata kepada saya, bagaimana ia merasa miskin kembali, saat mengunjungi Hollywood di Amerika Serikat. Lho, bagaimana ini? Siapa miskin, siapa kaya?

Yang saya dengar, orang terkaya di dunia yang namanya Bill Gates juga masih datang ke kantor setiap hari. Aneh ya, apakah ia ini merasa masih kurang kaya atau kurang sukses? Atau belum benar-benar “financial free”?

Yah, itulah yang namanya sebuah relativitas. Saya hanya berfikir, andaikata Anda menganggap kelimpahan uang sebagai sebuah terminal akhir, maka Dewa Kesuksesan akan menyambut Anda dengan kata-kata: “Happy landing in your own paradise..” lalu Anda dipersilahkan masuk kesebuah pintu gerbang yang di dalamnya terhampar sebuah padang rumput hijau indah serta luas tiada bertepi. Sepintas pemandangan itu sangat-sangat indah, tapi Anda bingung harus melangkah ke mana. Yang umum terjadi, pada masa-masa awal orang akan sangat menikmati terminal akhir dari sebuah kesuksesan seperti itu, namun perlahan tapi pasti, di suatu batas ia akan mengalami kejenuhan yang menyebabkannya merasa kehilangan tujuan.
Saya mendeteksi fenomena itu sebagai sebuah sindrom. Dari pembicaraan dengan beberapa rekan yang berkompetensi dalam aspek-aspek kejiwaan, belum ditemukan istilah yang benar-benar tepat dan baku untuk itu. Oleh karenanya saya cenderung untuk memberi istilah sebagai “sindrom kehilangan tujuan”, atau kalau boleh disingkat, kita sebut saja sebagai “SKT”.

Penyebab sindrom tersebut adalah karena seseorang menganggap “keberhasilan dalam mengumpulan banyak uang” sebagai sebuah titik akhir dari sebuah perjuangan. Dan bila keberhasilan sebagaimana yang didefinisikan itu telah tercapai, maka saat itulah “sidrom kehilangan tujuan” akan muncul.

Dampak dari SKT ini cenderung negatif, dan bisa terjangkit pada semua orang dari profesi apa saja, dan tersebar mulai dari lapisan masyarakat paling bawah, sampai ke lapisan paling atas.

Di tingkat lapisan masyarakat bawah, bisa kita lihat gejala SKT menghinggapi mereka yang merasa kebutuhan pokoknya telah terpenuhi. Beberapa rekan yang bekerja sebagai sopir atau pesuruh kantor (office boy) di perusahaan-perusahaan besar, menerima gaji yang jauh lebih tinggi, bila dibanding karyawan sejenis di perusahaan lain. Gaji tersebut sudah berlebihan menurut kebutuhan mereka, sehingga walau sebagian ditabung, masih ada sejumlah uang tersisa yang entah untuk apa nantinya digunakan.

Mereka akhirnya terkena SKT, karena setelah semua kebutuhan pokok dan nafkah keluarga telah terpenuhi, untuk apa lagi kelebihan uang itu ? Apa lagi yang harus dilakukan ? Maka. seperti telah disinggung di atas, SKT cenderung berakibat negatif. Sebagian dari mereka akhirnya pergi ke dunia gelap, foya-foya, mabuk-mabuk dan banyak yang merencanakan kawin lagi.

Pada tingkat menengah, gejalanya tidak jauh berbeda. Foya-foya sudah menjadi standar yang lumrah. Kalangan menengah biasanya menginjak taraf kemapanan sekitar umur 40-an tahun. Maka SKT menjelma dalam bentuk yang sudah sangat dikenal masyarakat, antara lain berupa “masa puber kedua” dan semacamnya. Makin tinggi tingkat kecukupan seseorang dalam soal materi—(ini sering diidentikkan orang sebagai keberhasilan hidup)--SKT menampakkan dampaknya lebih dahsyat.

Di kalangan atas, banyak dari kaum elit memelihara istri-istri simpanan, mencari hiburan keluar negeri, berjudi di pusat-pusat perjudian internasional. Yang lebih parah, para pengusaha raksasa yang terkena SKT, melanjutkan sepak terjangnya dengan merugikan orang lain, misalnya mencaplok perusahaan-perusahaan yang lebih kecil, berkolusi untuk menguasai lahan-lahan milik masyarakat yang berpotensi ekonomi dan banyak tindakan-tindakan tidak etis lainnya.

Lain halnya apabila seseorang menganggap keberhasilan dalam mengumpulkan kekayaan materi sebagai sebuah “titik awal” dari sebuah perjalanan lanjutan menuju kesuksesan lain yang lebih bermakna dan lebih berkualitas. Orang-orang tipe ini tidak akan terkena sindrom, sebab Dewa Kesuksesan tidak menyambut mereka dengan kata-kata: “Happy landing…...”, melainkan dengan ucapan “Welcome on board..”, untuk selanjutnya mempersilahkan orang sukses menaiki kapal yang dikemudikannya, lalu berlayar menuju pulau-pulau kesuksesan berikut.

Apa saja yang dimaksud dengan pulau-pulau kesuksesan berikut itu? Ya, antara lain mendirikan pabrik-pabrik baru yang mampu menampung banyak pekerja dalam rangka menanggulangi kasus pengangguran, mendirikan bank-bank perkreditan rakyat yang membantu kelangsungan usaha rakyat kecil, mendirikan yayasan-yayasan yang membina kaum jompo dan yatim piatu, sekolah-sekolah dan last but not least… menyelenggarakan seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan kewirausahaan untuk berbagi pengetahuan serta pengalaman, agar banyak orang dapat mengikuti jejaknya menjadi pengusaha yang berhasil.

KEPIAWAIAN MENJUAL


Menguasai seluk beluk produk yang dijual, merupakan suatu keharusan bagi setiap penjual. Masalah ini mirip dengan kondisi seorang guru, yang terlebih dahulu harus menguasai suatu ilmu, sebelum bisa mengajarkannya pada murid-murid. Barangkali, tugas penjual lebih berat dari pada tugas seorang guru, karena kalau guru cukup mengajar sesuatu menurut apa adanya, maka seorang penjual selain mengajar dan memperagakan, ia harus juga dapat memikat konsumen agar tertarik membeli produk yang ia jajakan.
Seorang penjual tidak akan bisa menarik minat calon pelanggan, selama ia tidak mampu menjelaskan dengan baik semua hal-ihwal barang atau jasa yang ia tawarkan, atau ia tidak bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Di atas itu, ia juga harus bisa mengalihkan pusat perhatian orang kepada faktor-faktor keunggulan produk secara maksimal, dan tanpa maksud menipu atau menyembunyikan hal-hal buruk, perlu diusahakan agar kesan orang terhadap faktor kelemahan produk bisa minimal. Perlu diingat, bahwa tidak ada yang sempurna didunia ini. Tidak ada gading yang tak retak. Produk yang baik adalah produk yang disiapkan secara teknis sedemikian rupa oleh pabrik, sehingga semua kelemahannya sudah diperhitungkan tidak akan merugikan pemakai, selama prosedur yang benar, diperhatikan baik-baik. Oleh karenanya, pengetahuan tentang produk perlu sekali dikuasai oleh semua penjual, agar dalam penyerahannya kepada konsumen tidak akan menimbulkan kesan ada unsur-unsur penipuan.
 
Walaupun tujuan peragaan adalah untuk menonjolkan keunggulan, namun unsur-unsur kelemahan harus juga disampaikan secara jujur. Untuk mengatasi kelemahan produk, umumnya pabrik telah menyiapkan prosedur-prosedur, aturan-aturan pemakaian yang harus diikuti oleh konsumen. Sampaikanlah itu semua, ajarkan dan beri contohnya. Dengan jalan ini, penjual akan mendapat rasa penghargaan dari konsumennya sebagai orang yang jujur dan profesional.
 
Ada beberapa penjual yang karena sifat malas dan ingin mudahnya saja, lantas mengabaikan keharusan memiliki pengetahuan produk. Ia tidak mau membaca spesifikasi barang, tidak juga mempelajari petunjuk pemakaian dan lain-lainnya, sehingga melakukan penjualan secara “amatiran”. Saat memberikan peragaan, ketika ditanya soal kelemahan produknya, ia cenderung menutup-nutupi seakan barang itu adalah barang paling sempurna didunia, atau ketika terdesak mencari jawaban, memberikan keterangan “ngawur” dan dikarang-karang sendiri. Akibatnya, calon pelanggan tidak respek terhadapnya. Mereka yang kritis malah curiga, jangan-jangan ini sebuah penipuan!
 
Selanjutnya, untuk mengantisipasi adanya persaingan dari produk-produk sejenis, seorang penjual dituntut untuk mampu menggali segala nilai tambah yang mungkin ada dan tersembunyi didalam sebuah komoditi. Misalnya, kita dapat mengambil sebuah model, umpamanya buku. Dimata orang yang memiliki naluri kewiraniagaan, buku tidak hanya berguna untuk satu hal tertentu saja, melainkan memiliki keaneka ragaman manfaat, antara lain sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, sebagai bahan bacaan dikala senggang, sebagai barang dagangan bagi kaum pedagang buku, untuk sarana menulis dan menggambar, untuk hadiah kepada seseorang, sebagai hiasan didalam rumah, sebagai status sosial bagi orang-orang terpelajar, bisa sebagai bahan sumbangan ke perpustakaan umum, bahkan buku bekas pun bisa dijual atau diloakkan.
 
Dengan berbekal kejelian melihat nilai tambah dari sebuah produk, seorang penjual akan bisa berhasil memenangkan sebuah persaingan yang amat ketat. Disini berlaku hukum relativitas atas “selling points” (faktor-faktor unggulan yang akan dijual) dari sebuah produk, yang mengatakan bahwa terjadi atau tidaknya sebuah transaksi penjualan, bukan ditentukan oleh kondisi produknya sendiri, melainkan oleh kelihaian siwiraniaganya. Yang dimaksud tentu kepiawaian wiraniaga tersebut dalam menggali selling points tadi. Ada pemeo yang mengatakan bahwa ditangan seorang penjual yang hebat, (maaf), kotoran manusia pun bisa berubah menjadi emas. Penulis melihat, pemeo ini bukanlah sekadar kata-kata kiasan yang terlalu dilebih-lebihkan, melainkan sebuah ungkapan yang benar terjadi secara fisik. Karena, ternyata ada seorang pengusaha yang berhasil sukses, dengan jalan berkecimpung dalam bidang “pertinjaan”, meliputi penyedotan, perbaikan dan pembuatan septic-tank, dan sebagainya. Tentu kita dapat menyimpulkan, bahwa sesungguhnyalah pengusaha tersebut mempunyai naluri bisnis yang amat tajam, sehingga bisa melihat dan memanipulasi nilai-tambah pada tinja untuk menjadi tambang emas bagi diri dan keluarganya !
Jelas bahwa setiap benda didunia ini mempunyai nilai manfaat, walaupun barang itu dibuat untuk maksud tertentu, atau malah mungkin tidak pernah dirancang untuk apapun juga, seperti daun kering misalnya, ia tetap bisa digunakan dan memiliki nilai tambah. Dengan kesadaran inilah seorang penjual akan bisa berkiprah sebaik-baiknya, seakan benda apapun akan bisa dijual tanpa banyak masalah.

KEWIRAUSAHAAN, SEBAGAI SEBUAH NILAI


 

Dewasa ini, dunia kewirausahaan (kewiraswastaan) tampaknya sudah mulai diminati oleh masyarakat luas. Namun, karena kurangnya informasi, banyak orang merasa masih belum jelas tentang aspek-aspek apa saja yang melingkupi dunia wiraswasta. Sebagian orang beranggapan bahwa kewiraswastaan adalah dunianya kaum pengusaha besar dan mapan, lingkungannya para direktur dan pemilik PT, CV serta berbagai bentuk perusahaan lainnya. Oleh karena itu, kewirawastaan sering dianggap sebagai wacana tentang bagaimana menjadi kaya. Sedang kekayaan itu sendiri seakan-akan merupakan simbol keberhasilan dari kewiraswastaan.
Bukan hanya sebagian masyarakat awam yang berpikir demikian, karena ternyata beberapa lembaga pembinaan kewiraswastaan juga mempunyai persepsi yang mirip dengan itu. Pada beberapa kesempatan, lembaga-lembaga tersebut menampilkan figur tokoh-tokoh sukses yang katanya berhasil menjadi kaya, dengan jalan berwiraswasta. Figur sukses itu antara lain terdiri dari tokoh-tokoh pengusaha besar yang masyarakat mengenalnya sebagai orang-orang terkemuka yang dekat dengan para pejabat pemerintahan.
Terlepas dari siapa tokoh-tokoh sukses dan kaya yang ditampilkan itu, serta bagaimana cara mendapatkan kekayaannya, marilah kita kembali ke inti persoalan : “Benarkah kewiraswastaan merupakan wacana tentang bagaimana caranya untuk menjadi kaya ?”
Kalau bicara sekadar menjadi kaya, tentu semua orang maklum bahwa tidak semua orang kaya adalah pengusaha, sebaliknya tidak semua pengusaha adalah orang kaya. Rata-rata pejabat di Indonesia sudah termasuk orang kaya atau orang berada, apalagi kalau pejabat itu korup. Karyawan-karyawan swasta, terutama para general manager dan direktur juga banyak yang kaya. Bahkan, ada pengemis jalanan berpenghasilan lebih dari Rp. 300.000,- bersih per hari, dan jelas bahwa ia berpotensi untuk menjadi kaya. Dapatkah mereka semua, termasuk para koruptor dan pengemis, menjadi figur panutan dalam wacana kewirausahaan ? Rasanya tidak lah ya..?
Kewiraswastaan atau kewirausahaan sebenarnya bukanlah bertujuan untuk menjadi kaya. Setidaknya inilah yang dekemukakan oleh para perintis kewiraswastaan di Indonesia sejak 3 dekade yang lalu. Merintis masa depan dengan belajar menjadi pengusaha lebih mirip dengan belajar bagaimana mengemudikan kendaraan. Seorang instruktur pada sebuah sekolah mengemudi mobil pernah berkata pada para siswanya, yang dalam praktek selalu berusaha untuk menjalankan kendaraan dengan kecepatan tinggi : “Keterampilan mengemudi bukan dilihat dari seberapa cepat kendaraan dipacu. Karena memacu kecepatan adalah hal yang mudah. Itu hanya soal seberapa dalam kita menginjak pedal gas. Ilmu mengemudi lebih merupakan keterampilan bagaimana menjalankan mobil dari keadaan tidak bergerak, menjadi bergerak dan berjalan dengan stabil, serta bermanuver dengan baik sesuai keadaan, berbelok, maju, mundur, parkir, menanjak, menurun dan lain sebagainya, tanpa membahayakan diri sendiri ataupun orang lain. Kecepatan adalah soal lain..”
Apa yang dikatakan sang instruktur memang benar. Keberhasilan mengemudi bukan dilihat dari seberapa cepat kendaraan dipacu. Demikian pun keadaannya dengan kewiraswastaan. Keberhasilan berwiraswasta tidaklah identik dengan seberapa berhasil seseorang mengumpulkan uang atau harta serta menjadi kaya, karena kekayaan bisa diperoleh dengan berbagai cara, termasuk mencuri, merampok, korupsi, melacur dan lain-lain perbuatan negatif. Sebaliknya kewiraswastaan lebih melihat bagaimana seseorang bisa membentuk, mendirikan serta menjalankan usaha dari sesuatu yang tadinya tidak berbentuk, tidak berjalan bahkan mungkin tidak ada sama sekali. Seberapa kecil pun ukuran suatu usaha, jika dimulai dengan niat baik, cara-cara yang bersih, keberanian dan kemandirian, sejak dari nol dan kemudian bisa berjalan dengan baik, maka nilai kewiraswastaannya jelas lebih berharga, daripada sebuah perusahaan besar yang dimulai dengan bergelimang fasilitas, penuh kolusi serta sarat dengan keculasan.
Dalam kewiraswastaan, kekayaan menjadi relatif sifatnya. Ia hanya merupakan produk bawaan (by-product) dari sebuah usaha yang berorientasi kearah prestasi. Prestasi kerja manusia yang ingin mengaktualisasikan diri dalam suatu kehidupan mandiri. Ada pengusaha yang sudah amat sukses dan kaya, tapi tidak pernah menampilkan diri sebagai orang yang hidup bermewah-mewah, dan ada juga orang yang sebenarnya belum bisa dikatakan kaya, namun berpenampilan begitu glamor dengan pakaian dan perhiasan yang amat mencolok. Maka soal kekayaan pada akhirnya terpulang kepada masing-masing individu. 

Keadaan kaya-miskin, sukses-gagal, naik dan jatuh merupakan keadaan yang bisa terjadi kapan saja dalam kehidupan seorang pengusaha, tidak peduli betapapun piawainya dia. Kewiraswastaan hanya menggariskan bahwa seorang wiraswastawan yang baik adalah sosok pengusaha yang tidak sombong pada saat jaya, dan tidak berputus asa pada saat jatuh.
Tidak ada satu suku kata pun dari kata “wiraswasta” yang menunjukkan arti kearah pengejaran uang dan harta benda, tidak pula kata wiraswasta itu menunjuk pada salah satu strata, kasta, tingkatan sosial, golongan ataupun kelompok elit tertentu.
Terkadang orang tidak menyadari bahwa “wiraswasta” tidak sama dengan “swasta” dan “orang swasta” tidak dengan sendirinya merupakan wiraswastawan sejati, meskipun mungkin yang bersangkutan menyatakan diri begitu.. Ini disebabkan “wiraswasta” mengandung kata “wira”, yang mempunyai makna luhurnya budi pekerti, teladan, memiliki karakter yang baik, berjiwa kstaria dan patriotik. Oleh sebab itu dapat dipastikan bahwa seorang wiraswastawan sejati selalu memegang etika sebaik-baiknya dalam berbisnis.
Orang swasta yang berhasil mengumpulkan harta berlimpah, tidak dapat dikatakan sebagai wiraswastawan sejati, selama harta yang dikumpulkannya itu didapat dengan jalan yang tidak benar seperti kolusi, memeras, menipu, mafia-isme dan lain-lain aktivitas sejenis.
Saya menemukan bahwa kadang-kadang terjadi salah pengertian tentang istilah “kewiraswastaan” yang merupakan terjemahan dari kata asing “entrepreneurship”. Ada pendapat bahwa kewiraswastaan tidak hanya terjadi dikalangan orang atau perusahaan swasta saja, tetapi juga ada dilingkungan perkoperasian, lingkungan pendidikan bahkan dilingkungan badan-badan usaha milik pemerintah (BUMN). Oleh karenanya, “entrepreneurship” bukan monopoli kelompok perusahaan swasta saja. Maka kemudian timbul istilah “wirausaha” yang dianggap lebih universal dalam penerapannya. Gejala ini berlanjut lebih spesifik lagi dengan munculnya istilah “kewirakoperasian” untuk para aktivis koperasi.
Saya berpendapat, istilah “wiraswasta” tidak hanya menunjuk kepada orang-orang dari kalangan perusahaan swasta. Sebagai istilah yang mewakili kata “entrepreneurship”, penggunaannnya sudah sangat universal, sehingga sebetulnya tidak perlu lagi direvisi. Secara etimologi, sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Suparman Sumahamidjaya, arti kata wiraswasta bisa diuraikan lebih kurang sebagai berikut :

wira = luhur, berani, jujur, ksatria.
swa = sendiri.
sta = berdiri.

Jadi, maksud dari kata wiraswasta adalah, mewujudkan aspirasi kehidupan berusaha yang mandiri dengan landasan keyakinan dan watak yang luhur. Lebih spesifiknya, kaum wiraswastawan sejati adalah mereka yang berani memutuskan untuk bersikap, berpikir dan bertindak secara mandiri, mencari nafkah dan berkarir dengan jalan berusaha di atas kemampuan sendiri, dengan cara yang jujur dan adil, jauh dari sifat-sifat keserakahan dan kecurangan.
Definisi di atas tidak membatasi bahwa wiraswastawan harus seorang yang menjalankan perusahaan milik sendiri. Dengan demikian kewiraswastaan berlaku di lingkungan manapun, termasuk koperasi, BUMN, pengusaha kaki lima, makelar bahkan di lingkungan karyawan sekalipun. Sebab apa? Karena kaum profesional yang status formalnya adalah seorang karyawan, pada hakikatnya merupakan seorang wiraswastawan juga, karena mereka bekerja dengan menjual “leadership”, atas dasar kemitraan bisnis yang adil dan saling menguntungkan, dan bukan atas dasar keinginan untuk “menumpang hidup” semata. Para distributor dari sebuah perusahaan multi-level-marketing, sebagaimana agen-agen asuransi, juga merupakan pribadi-pribadi yang berusaha secara mandiri dan mereka berwiraswasta. Beberapa perusahaan yang telah maju ternyata juga didirikan oleh para mantan karyawan yang memiliki naluri kewiraswastaan. Hal ini menguatkan bukti bahwa nilai-nilai kewiraswastaan memang ada dimana-mana. Hanya saja, kewirawastaan ada yang kelihatan secara jelas, ada yang tersembunyi.
Betapa pun saya menyambut baik munculnya berbagai istilah alternatif, karena hal tersebut dengan sendirinya akan memperkaya khasanah kosakata bahasa Indonesia yang masih memerlukan pembinaan-pembinaan lebih jauh. Sebab itu, dalam situs ini akan dipergunakan istilah “wiraswasta” dan “wirausaha” secara silih berganti, agar tidak menimbulkan kejenuhan.
Beberapa aktivitas yang memiliki kandungan nilai kewirausahaan, baik yang jelas maupun yang tersembunyi bisa dicontohkan sebagai berikut :
  1. Pengusaha-pengusaha “kantoran” yang menjalankan perusahaan milik sendiri atau bermitra. Baik dari kelas pengusaha besar, menengah ataupun kecil.
  2. Pengusaha-pengusaha seperti pedagang kaki lima, warung nasi, restoran, toko klontong, bengkel, salon dan lain-lain.
  3. Pengusaha candak kulak, seperti bakul jamu, tukang bakso pikul/grobak, dan lain sebagaiya.
  4. Pengurus dan anggota-anggota koperasi.
  5. Tokoh-tokoh pemasaran, seperti para direktur dan manajer pemasaran, sales representative, business representative, salesmen/girl door to door.
  6. Para distributor multi-level-marketing serta para agen asuransi.
  7. Tokoh-tokoh profesi seperti dokter, pengacara, notaris, konsultan yang membuka praktik sendiri, sampai supir taksi.
  8. Mereka yang menjalankan bisnis sambilan, tanpa melecehkan pekerjaan utamanya sebagai karyawan.
  9. Para karyawan, yang sambil bekerja, berusaha mengumpulkan modal dan belajar untuk mempersiapkan diri menjadi pengusaha nantinya.
  10. Para makelar yang jujur.
  11. Kaum profesional yang menjual leadership pada perusahaan-perusahaan besar mulai dari yang menjabat sebagai presiden direktur, direktur atau manajer.
  12. Pekerja free-lance, instruktur-instruktur aerobik, pelatih olahraga yang bekerja waktu penuh.

TERJUN LANGSUNG KE DUNIA USAHA?


Di dalam milis wirausaha, kerap kita jumpai e-mail yang nadanya menghimbau seseorang untuk segera terjun ke dunia usaha. Kata-kata himbauannya kira-kira seperti ini: “Langsung aja mandi, gak usah kebanyakan mikir..”, atau “Langsung aja terjun, kalau terlalu banyak pertimbangan, ya gak akan pernah jadi…”, dst…dst..

E-mail seperti itu sudah sering muncul di berbagai milis internet. Namun demikian, kenyataan tetap memperlihatkan, bahwasanya pendamba kewirausahaan yang masih belum berani terjun total, jumlahnya cukup banyak. Ada yang masih bertahan dalam status sebagai pegawai orang lain, dan ada juga yang setelah sekian lama, masih saja dalam keadaan “bertanya-kanan-bertanya-kiri” tanpa tujuan yang jelas. Lho, kenapa begitu?

Saya sangat setuju dengan himbauan “langsung terjun” ini. Sebab benar, kalau terlalu banyak pertimbangan ini-itu, biasanya minat tinggallah minat, yang selamanya tidak kunjung menjadi kenyataan.

Namun demikian, saya merasa perlu memberikan tambahan kata-kata: “dengan catatan”. Catatan apa?

Catatan bahwa sebelum terjun, calon pengusaha seyogyanya sudah mempunyai sebuah “peta perjalanan” yang benar dan baik. “Benar” artinya sesuai dengan yang dibutuhkan, “baik” artinya dilengkapi data-data yang terpercaya. Ambil contoh, kalau kita ingin berlayar dari Jakarta menuju Sorong di Papua, maka harus ada peta yang akan menuntun kita melayari rute-rute pelayaran yang aman. Dengan peta yang sama kita juga akan dapat menentukan tempat-tempat di mana akan transit, seperti Surabaya, Makassar, Ambon untuk selanjutnya sampai di Sorong. Bayangkan kalau kita tidak mempunyai peta sama sekali, betapa besarnya risiko pelayaran tersebut?

Apa yang dimaksud dengan “peta perjalanan” dalam urusan memulai sebuah bisnis, tidak lain adalah sebuah rencana usaha, atau dalam istilah yang umum, disebut “Business Plan” (BP). Dengan BP inilah, seorang kandidat pengusaha akan dapat memantapkan kepercayaan dirinya, untuk tidak ragu-ragu terjun serius ke dalam bisnis. Sebab, ia akan tahu secara pasti apa sebenarnya tujuan usahanya (visi), sebagaimana dalam contoh di atas, seakan-akan pelayarannya telah ditetapkan menuju kota Sorong. Ia akan tahu pula, misi-misi apa sajakah yang harus dilakukan, yang digambarkan bagaimana perjalanannya akan melalui kota-kota Surabaya, Makassar dan Ambon untuk transit. Di samping itu, dengan BP, seorang pengusaha menjadi arif untuk tidak memasuki bidang-bidang yang berisiko bagi bisnisnya, sebagaimana kapalnya akan berlayar menjauhi tempat-tempat berbahaya yang penuh batu karang, alur badai dan lain sebagainya. Ia pun akan mengerti dari mana ia akan memperoleh dan mengelola sumber-sumber daya yang diperlukan, termasuk sumber daya keuangan, seperti halnya bagaimana ia akan mendapatkan bahan bakar saat memulai pelayaran, dan bagaimana pengisian selanjutnya di perjalanan.

Tidaklah cukup terjun ke dunia usaha yang maha luas -- yang luasnya bagaikan lautan tak bertepi -- hanya berbekal motivasi saja. Memang motivasi adalah modal dasar kita untuk melakukan segala sesuatu, karena tanpa motivasi orang akan loyo sebelum bertindak apa pun. Namun demikian, tanpa sebuah peta yang benar dan baik, kemungkinan terbesarnya kita akan menemui risiko yang bukan tidak mungkin akan berakibat fatal bagi bisnis, sekaligus masa depan kita. Tidak peduli seberapa besar pun motivasi yang kita miliki.

Stephen Covey mempunyai penggambaran yang menarik tentang motivasi ini. Ia mengandaikan, kalau seseorang ingin berkendara berkeliling di dalam kota Michigan, sedangkan orang itu tidak mempunyai peta kota tersebut, lalu malah meggunakan peta kota Detroit, maka semakin tinggi motivasinya, makin cepat pula ia akan tersesat.

Kita tidak akan menutup mata akan adanya beberapa orang tertentu yang dengan berani terjun ke dunia bisnis tanpa panduan apa pun pada awalnya, dan sukses! Akan tetapi, berapa banyak jumlah orang yang demikian? Terus terang saya tidak mempunya data yang akurat tentang hal tsb., tapi menurut pengamatan jumlahnya tidak akan banyak, 10% pun sudah terlalu banyak. Dari sejumlah kasus seperti itu, umumnya yang berperan adalah faktor keberuntungan, yang tentu saja tidak akan dapat menjadi acuan bagi kita.

Mungkin Anda pernah membaca tentang sejarah asal muasal nenek moyang bangsa Indonesia? Literatur mengatakan bahwa bangsa kita ini sebenarnya berasal dari sebuah daerah di Asia, yang waktu itu dinamakan India Belakang. Kalau tidak salah, letaknya kira-kira berdekatan dengan negeri Vietnam sekarang ini. Nah, waktu itu, disebabkan musim paceklik dan bencana alam, ditambah lagi dengan kezaliman penguasa, beribu-ribu penduduk melakukan eksodus, melarikan diri dengan kapal-kapal kayu mengarungi samudera maha luas untuk mengungsi. Mereka memutuskan pergi ke arah selatan dengan harapan akan menemukan sebuah negeri baru yang masih kosong untuk dapat mereka tinggali. Maka tanpa persiapan yang memadai, ribuan orang itu pun beramai-ramai berlayar ke selatan menggunakan ratusan bahkan ribuan kapal-kapal kecil yang terbuat dari kayu. Apa yang terjadi? Sebagian kecil dari mereka, tidak sampai 30% nya selamat mencapai daratan baru yang dinamakan Nusantara, tapi sebagian besarnya, lebih dari 70% gagal mencapai tujuan. Sebagian tenggelam di tengah laut dan menjadi mangsa ikan hiu, sebagian lagi tersapu badai hilang entah ke mana, dan selebihnya mati karena sakit dan kelaparan.

Pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa sejarah ini adalah bahwa barang siapa terjun ke suatu kancah perjuangan tanpa persiapan yang matang, apalagi tanpa persiapan sama sekali, maka kemungkinan “survival”nya adalah kecil sekali, tidak sampai 30%, bahkan mungkin jauh lebih kecil lagi.

Saya, dan tentu saja kita semua, pasti tidak menginginkan ada kejadian di mana calon-calon wirausahawan Indonesia yang jumlahnya ribuan, terjun berama-ramai ke dalam dunia wiraswasta begitu saja tanpa berbekal peta yang benar dan baik, untuk kemudian sebagian besar lenyap “tersapu bersih” oleh ganasnya lautan dunia usaha, atau menjadi mangsa binatang-binatang bisnis (business animal) yang buas atau mungkin juga tersesat di rimba raya perdagangan dan industri, sampai kehabisan sumber daya sama sekali. Saya sedih dan terharu ketika beberapa waktu yang lalu, sempat membaca e-mail seorang rekan yang menceritakan bagaimana ia, karena begitu terobsesi dengan buku-buku seri financial freedom dari Robert “Rich Dad Poor Dad” Kiyosaki, dengan serta merta melepaskan pekerjaan dan jabatan yang mapan di Citibank Jakarta, untuk kemudian terjun penuh ke dunia bisnis. Ternyata, keputusan yang hanya didasari oleh motivasi menggebu-gebu itu memaksanya untuk menerima kenyataan bahwa cuma dalam waktu relatif singkat, ia harus kehilangan segala-galanya. Menjadi miskin dan harus mencari-cari pekerjaan baru guna mengulang perjalanan karir kembali dari bawah… Dan saya lebih terharu lagi ketika rekan ini pada baris-baris terakhir e-mailnya dengan jiwa besar dan patriotik sekali mengaku tidak menyesal dan suatu saat akan kembali ke dunia wirausaha..

Dunia bisnis adalah sebuah kancah perjuangan. Kalau kita bandingkan itu sebagai sebuah peperangan, maka panglima perang Sun Tzu pernah bersabda: “Apabila Anda menginginkan kemenangan di medan perang, maka terlebih dahulu Anda harus mengenal dengan baik keadaan sekitar, sungai-sungai, gunung-gunung serta hutan-hutan yang ada, dengan demikian baru pintu kemenangan akan terbuka untuk Anda ..”

Safety Net

Masih takut untuk terjun segera ke dunia usaha?

Kalau sebuah Business Plan belum cukup untuk membuat Anda berani terjun berbisnis, maka ijinkan saya untuk berbagi beberapa kiat tambahan guna memberikan rasa aman lebih jauh. Kiat-kiat ini, fungsinya mirip dengan perangkat “safety net”, semacam jaring pengaman yang biasa digunakan oleh para pemain akrobat, khususnya pemain trapeze. Dengan demikian, bila Anda jatuh, masih ada “sesuatu” yang akan menjaga keselamatan Anda sehingga tidak perlu mengalami bencana yang terlalu fatal.

• Memulai Usaha Tidak Berarti Harus Menyediakan Sejumlah Uang: Kebanyakan orang mengartikan mulainya sebuah usaha identik dengan keharusan menyediakan sejumlah besar uang untuk investasi awal. Apakah itu untuk kantor, pabrik, peralatan, overhead dan lain sebagainya. Sebenarnya, tidaklah harus demikian. Sebuah upaya kewirausahaan dapat dimulai tanpa investasi apa pun. Modal dengkul pun bisa. Pada kesempatan mendatang saya akan sampaikan sebuah artikel, bagaimana seorang wirausahawan dapat mengembangkan diri mulai dari modal dengkul, sampai dapat berbisnis helikopter. Oleh sebab itu, camkanlah bahwa Anda tidak boleh dan tidak usah mengeluarkan dana apa pun di awal usaha.
• Pergunakan Potensi Orang Lain: Prinsip BODOL (Bisnis Optimis Duit Orang Lain) adalah prinsip yang benar, selama Anda dapat memegang etika bisnis dengan baik. Kalau Anda mempunyai sebuah konsep usaha yang bagus, Anda dapat menuliskannya dalam sebuah proposal yang menarik, lalu cari seseorang dari kuadran I (Investor) untuk bekerja sama.
• Pergunakan Kemapanan Bisnis Orang Lain: Ini adalah sebuah konsep yang sudah sangat dikenal, wujudnya antara lain bisa berupa franchise atau semacamnya.
• Berbagi Tugas Strategis Dengan Istri/Suami: Kiprah Anda di dunia usaha akan jauh lebih aman kalau Anda berbagi tugas dengan pasangan, yaitu sementara Anda berjuang di dunia kewirausahaan, istri atau suami tetap bekerja sebagai karyawan. Dengan demikian, pengeluaran rumah tangga dapat dialokasikan pada penghasilan pasangan Anda, dan tidak boleh diganggu gugat untuk keperluan bisnis.
• Dan banyak Lagi…

Saya berharap, tulisan ini sedikit banyak akan dapat memberi sumbangan bagi rekan-rekan wirausahawan guna menambah wawasan pemikiran sekaligus membantu rekan-rekan lain yang mungkin masih merasa gamang untuk terjun langsung ke dunia bisnis. Bagi yang barangkali masih belum terlalu familiar dengan apa yang disebut “Business Plan” dan ingin berdiskusi lebih jauh, silahkan menghubungi saya.

Pada kesempatan mendatang, mudah-mudahan saya akan bisa menyusulkan sebuah tulisan lagi tentang bagaimana “tidak terjun”, melainkan “turun perlahan” ke dunia bisnis dengan bantuan “tali pengaman”.

KUADRAN “E” Versus KUADRAN “B”



Belum lama ini, penerbit Elex Media Komputindo (Gramedia Group) meluncurkan sebuah buku yang berjudul “Siapa Bilang Karyawan Tidak Bisa Kaya” kepada masyarakat yang memang haus akan buku-buku kiat sukses kehidupan. Buku buah karya Safir Senduk itu rupanya memang sangat menarik, terbukti dari cukup hangatnya sambutan dari berbagai kalangan di masyarakat. Tidak heran kalau kemudian, beberapa orang pembaca yang merasa terinspirasi, lantas membawa isu ini ke berbagai milis internet.
 
Tanpa diduga, naiknya judul buku tersebut ke dunia maya, telah mengundang adu argumentasi antara sejumlah peserta milis yang mendukung ide bahwa karyawan pun bisa menjadi kaya, melawan sekelompok peserta lainnya yang menentang ide dimaksud. Kelompok terakhir ini, yang hampir seluruhnya merupakan para wirausahawan, berkilah bahwa sekaya-kayanya seorang karyawan akan lebih kaya seorang majikan (note bene adalah pengusaha) yang mempekerjakan karyawan.
 
Sebenarnya, masalah apakah yang dijadikan fokus perdebatan tersebut? Apakah hanya semata-mata soal jumlah kekayaan yang akan mampu diraih seorang pengusaha dibanding yang mungkin bisa dikumpulkan seorang karyawan?
 
Saya menyempatkan diri untuk berfikir sejenak seusai membaca berbagai e-mail yang terlibat dalam wacana ini. Saya merasakan adanya aroma persaingan, antara satu kelompok sosial yang terdiri dari orang-orang yang berprofesi sebagai karyawan, dengan kelompok lain yang menyatakan dirinya sebagai kelompok entrepreneur. Ada nuansa yang merefleksikan “upaya perlawanan” kelompok karyawan yang selama ini dianggap “tidak mungkin bisa kaya”, terhadap dominasi kelompok pengusaha yang sudah terlanjur menjadi simbol kekayaan serta kesuksesan.
 
Kenapa dua kelompok profesi itu harus saling bertentangan, sampai “berseteru” di internet? Bukankah semua tahu bahwa seharusnya mereka saling membutuhkan?
Bila seorang entrepreneur mengkampanyekan isu kewirausahaan agar orang lain mau menjadi “Business Owner”, itu adalah hal yang baik dan sah-sah saja. Tapi pasti bukan dengan maksud agar semua orang menjadi pengusaha sehingga tidak ada lagi orang yang mau menjadi karyawan, bukan? Sebaliknya, bila seorang pekerja mengklaim bahwa profesi sebagai karyawan merupakan sebuah kemuliaan, itu juga hal yang sangat benar, dan tak perlu dibantah. Tapi tentunya bukan semata-mata karena ingin kaya, kan?
 
Nah, sekarang, coba bayangkan, apabila para pengusaha harus menjalankan usahanya tanpa dukungan seorang karyawan pun, masih mungkinkah Robert Kiyosaki mengelompokkan orang-orang ini di kuadran “B”? Di lain pihak, kalau karyawan mau bekerja, tapi tidak ada pengusaha yang membayar gajinya, masihkah kelompok ini ditempatkan di kuadran “E”?
Saya rasa, jelas dan gamblang, jawabannya adalah: tidak. Kenapa?
Sebab, bila terjadi keadaan seperti itu, di mana pengusaha bekerja tanpa karyawan (karena tidak ada lagi orang yang mau jadi karyawan), dan karyawan bekerja tanpa majikan (karena jadi karyawan toh sudah bisa kaya), maka kedua-duanya akan terlempar ke kuadran S, kuadrannya orang-orang yang berstatus “Self Employed” !
 
Hal ini tentu memberi pencerahan kepada kita bahwa mempertentangkan kedua kuadran “E” dan “B” akan merupakan pekerjaan yang “jauh panggang dari api”. Setiap orang menjalankan karmanya masing-masing, yang satu berbeda dengan yang lain. Biarlah mereka yang garis tangannya menjadi karyawan, berbahagia dengan kehidupannya sebagai karyawan berikut segala suka dan dukanya. Dan biarlah mereka yang ditakdirkan menjadi pengusaha tetap berbahagia dengan status pengusahanya, lengkap pula dengan segala suka dukanya. Semua profesi adalah terhormat, dan tidak ada satu profesi yang lebih terhormat dari profesi yang lain. Yang jelas, setiap profesi merupakan satu komponen dari sebuah jaringan maha besar dalam kehidupan ini, yaitu “interdependency”, di mana setiap orang memiliki ketergantungan pada orang lainnya. 

Jangan Menilai Sebuah Buku Hanya Dengan Membaca Satu Halaman Saja


Jangan Menilai Sebuah Buku Hanya Dengan Membaca Satu Halaman Saja

Jika Anda sekarang adalah seorang wirausahawan yang cukup berhasil, lalu Anda bertemu dengan seorang karyawan yang tampak rajin bekerja, akankah Anda lantas mencibir, seraya berkata dalam hati: “Hm, inilah figur seorang karyawan dan ia bekerja setengah mati, padahal biar sampai tua pun, ia tidak akan pernah bisa kaya..”
Kalau demikian halnya, kemungkinan besar Anda telah melakukan sebuah kekeliruan. Sebab, Anda telah melakukan penilaian atas masa depan seseorang hanya dari statusnya saat ini. Anda telah memvonis sebuah buku tebal hanya dengan membaca 1 halaman permulaan saja.
Ada banyak macam motivasi yang menyebabkan seseorang menjadi karyawan. Ada yang memang semata-mata karena alasan ekonomi demi mencari nafkah sehari-hari. Ada pula yang istilah kasarnya, ingin “numpang hidup”. Ada juga yang ingin mendapatkan status sosial. (Karyawan jenis ini biasanya bisa dicirikan dari kecenderungannya mencari kerja pada perusahaan-perusahaan besar atau perusahaan asing yang memiliki reputasi internasional/MNC = Multi National Company). Tapi ada satu jenis lagi yang perlu kita cermati, yaitu mereka yang sebenarnya berjiwa wirausaha, tapi karena perhitungan tertentu, mereka memilih untuk terlebih dahulu menjadi karyawan di perusahaan orang lain. (Tentang seluk-beluk motivasi kerja ini, Anda dapat membaca buku saya “Cermin Kepemimpinan” terbitan PT Elex Media Komputindo).
Alasan seorang cikal-bakal wirausahawan menjadi karyawan terlebih dulu, biasanya tidak jauh dari 2 hal penting: mengumpulkan modal, serta belajar dari pengalamannya bekerja di perusahaan orang lain.
Tahukah Anda bahwa ada banyak sekali tokoh-tokoh kewirausahaan yang berasal dari kuadran E (mployee)? Beberapa di antaranya adalah:
1) Konosuke Matsushita: Tokoh ini adalah tokoh wirausaha kelas dunia. Ialah raja peralatan listrik dari Jepang, dengan perusahaannya Matsushita Corporation. Ia merintis karirnya dengan jalan bekerja pada orang lain terlebih dahulu, antara lain menjadi pegawai toko sepeda dan karyawan perusahaan listrik.
2) Stan Shih: Ia adalah seorang tokoh bisnis asal Taiwan, yang berhasil membangun perusahaan produsen komputer merek ACER. Sebelum sukses meluncurkan Acer menjadi perusahan kaliber internasional, ia adalah seorang karyawan dari perusahaan elektronika “Qualitron”.
3) Enny Hardjanto: Saya rasa Anda tahu tokoh yang satu ini, sebab dulu ialah yang sering menghubungi Anda dalam urusan kartu kredit Citibank. Ya, Enny dulunya adalah Vice President Citibank Indonesia. Tapi ia telah memilih dunia usaha sebagai jalur karir lanjutannya, dengan mendirikan PT Hanesa Endera Sakti.

Dapatkah Anda membayangkan, seandainya Anda sebagai entrepreneur pada suatu saat bertemu tokoh-tokoh ini ketika mereka berstatus karyawan, lalu Anda mencibir kepada mereka seraya menggumam: “Anda karyawan, dan Anda tidak akan bisa kaya..” Beberapa tahun kemudian Anda bertemu lagi dengan mereka, dan ternyata tokoh-tokoh itu telah berlipat-lipat kali lebih sukses dari Anda, apa yang Anda rasakan? Saya rasa, sedikitnya Anda akan terperangah…bukan?
Kalau kita mengira bahwa “kewirausahaan” itu adalah sebuah profesi, maka saya khawatir bahwa kita telah keliru. Kewirausahaan sejatinya adalah sebuah nilai (entrepreneurship value) yang perwujudannya harus didukung oleh semangat kewirausahaan (entrepreneurship spirit). Oleh sebab itu, jangan heran kalau sekarang ini telah berkembang wacana tentang kewirausahaan di lingkungan perusahaan, yang penerapannya melibatkan para karyawan. Wacana itu sekarang populer dengan istilah “Intrapreneurship”. Tidak kurang dari perusahaan-perusahaan raksasa kaliber dunia sekarang terlibat dalam kegiatan-kegiatan Intrapreneurship, antara lain IBM, Xerox, Kodak dan lain sebagainya. (Lain kali akan saya coba untuk mengulas tentang Intrapreneurship ini).