Friday, December 12, 2014

MAKALAH SAINS DALAM PERSPEKTIF AL QUR’AN


MAKALAH SAINS DALAM PERSPEKTIF AL QUR’AN

Pendahuluan 

Keinginan atau obsesi akan bangkitnya kembali peradaban Islam secara jujur lahir dari bentuk romantisisme terhadap sejarah masa lampau. Walau begitu, keinginan itu tentunya sesuatu yang wajar. Bahkan menjadi kewajiban setiap muslim untuk dapat membangun suatu peradaban  yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Karena itu, catatan sejarah di atas akan membuat kita lebih bijak dalam melihat ke arah mana kita akan menuju. Satu hal yang jelas adalah sebuah peradaban baru dapat berdiri kokoh jika berhasil membangun suatu sistem pengetahuan yang mapan. Bangkitnya peradaban Islam akan sangat tergantung pada keberhasilan dalam bidang sains melalui prestasi institusional dan epistemologis menuju pada proses dekonstruksi epistemologi sains moderen yang memungkinkan nilai-nilai Islam terserap secara seimbang ke dalam sistem pengetahuan yang dibangun tanpa harus menjadikan sains sebagai alat legitimasi agama dan sebaliknya.

Perbedaan Pandangan Ulama tentang al-Qur’an 

Dalam al-qur’an terdapat lebih dari 750 ayat yang merujuk kepada fenomena alam. Hampir seluruh ayat ini memerintahkan manusia untuk mempelajari kitab (yang berhubungan dengan) penciptaan dan merenungkan isinya.
Dalam memandang permasalahan ini terdapat dua golongan yang berusaha melihat al-Qur’an. Golongan pertama mengatakan bahwa al-Qur’an mencakup seluruh bentuk pengetahuan dan dengan demikian ia mencakup unsur-unsur dasar seluruh ilmu-ilmu kealaman. Golongan kedua beranggapan bahwa al-Qur’an itu semata-mata kitab petunjuk, dan di dalamnya tidak ada tempat bagi ilmu kealaman.
Pandangan pertama yang menganggap al-Qur’an sebagai sebuag sumber seluruh ilmu pengetahuan ini bukanlah sesuatu yang baru, sebab banyak para ulama terdahulu yang juga berpendapat demikian. Imam al Ghazali dalam bukunya Ihya ‘ulum al-diin, beliau mengutop kata-kata ibnu mas’ud “jika seseorang ingin memiliki pengetahuan masa lampau dan pengetahuan modern, selayaknya dia merenungkan al-Qur’an …… ringkasnya, seluruh ilmu tercakup di dalam karya-karya dan sifat-sifat allah, dan al-Qur’an adalah penjelasan esensi, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya. Tidak ada batasan terhadap ilmu-ilmu ini, dan di dalam al-Qur’an terdapat indikasi pertemuannya (al-Qur’an dan ilmu-ilmu)”.
Sementara itu pendapat kedua lebih menekankan bahwa al-Qur’an adalah sebagai petunjuk dan berargumentasi:
  1. tidaklah benar menafsirkan kata-kata al-Qur’an dengan cara yang tidak diketahui oleh orang-orang arab pada masa nabi.
  2. al-Qur’an tidak diwahyukan untuk mengajari kita sains dan teknologi, tapi merupakan kitab petunjuk. Karena itu membicarakan ilmu kealaman adalah diluar tujuannya. Makna ayat QS 6:38 dan 16:89 adalah bahwa al-Qur’an itu mencakup apa saja yang diperlukan bagi petunjuk dan kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat.
  3. sains belum mencapai tingkat kemajuan yang paripurna. Karena itu tidaklah benar menafsirkan al-Qur’an menurut teori-teori yang dapat berubah.
  4. adalah kehendak allah bahwa manusia dapat menemukan rahasia-rahasia alam dengan menggunakan indera dan inteleknya. Jika al-Qur’an mencakup seluruh ilmu kealaman, maka akal manusiapun akan menjadi jumud dan kebebasan manusia menjadi tidak bermakna.
Sains dalam perspektif al-Qur’an
  1. kami yakin bahwa al-Qur’an merupakan kitab petunjuk bagi kemajuan manusia, dan mencakup apa saja yang diperlukan manusua dalam wilayah iman dan amal. Kami tidak memandangnya sebagai ensiklopedi sains, dan juga tidak meyakini kebenaran mencocokkan al-Qur’an dengan teori-teori sains yang berubah-ubah itu. Pada sisi lain, kita dapat menolak bahwa al-Qur’an mengandung rujukan-rujukan pada sebagian fenomena alam. Namun ini bukan untuk mengajarkan sains, tapi harus digunakan sebagai bantuan dalam menarik perhatian orang kepada keagungan allah dan dengan begitu membawanya dekat kepadaNya.
  2. Kami juga yakin bahwa kemajuan sains membuat pemahaman atas risalah-risalah al-Qur’an tertentu lebih mudah, misalnya (QS 21:30) merujuk pada evolusi tata surya dan peranan air di dalam kehidupan, juga ayat (51:49) yang memberitahukan pada kita tentang bukti adanya pasang-pasangan alam seluruh penciptaan. Sains modern membuat pemahaman ayat ini lebih mudah.
  3. Apabila kita mencocokkan al-Qur’an dengan suatu aliran filsafat atau sains suatu masa, maka kita akan mencapai titik dimana dalam periode dominasi positivisme, kita temukan ulama yang mencoba menggali filsafat ini dari al-Qur’an, dengan memandangnya sebagai basis kearifan al-Qur’an, dan tidak memperhatikan fakta bahwa pandangan ini tidak memberikan ruang bagi metafisika atau suatu wujud transenden.
  4. Kita dapat mengatakan bahwa walaupun al-Qur’an bukan ensiklopedi sains, namun ada pesan penting di dalam ayat-ayat yang melibatkan fenomena, dan para ilmuwan muslim harus memusatkan perhatiaanya pada misi tersebut daripada melibatkan diri mereka pada aspek keajaiban al-Qur’an dalam bidang sains atau dalam kinsistensinya dengan sains kontemporer.
Pesan al-Qur’an bagi para ilmuwan
  1. dalam ayat-ayat ini dianjurkan untuk mengkaji seluruh aspek alam dan menemukan misteri penciptaan (QS 45:4, 10:101, 29:20)
  2. menurut al-Qur’an, kita harus memakai indera dan intelek kita untuk memahami alam, dan ini akan mengantarkan kita keada apresiasi keagungan dan kekuasaan allah.
  3. Ayat-ayat diatas menegaskan bahwa segala sesuatu di dunia ini teratur dan bertujuan, dan dalam perbuatan allah tidak ada kesalahan apapun. (25:2, 21:16, 67:3-4)
  4. Al-Qur’an menyuruh kita mengenali hukum-hukum alam (yaitu, pola-pola allah di alam semesta) dan mengeksploitasinya bagi kesejahteraan manusia dengan tidak melampaui batas-batas syari’ah (55:5-8)
  5. Dalam pandangan al-Qur’an’an, seluruh sains adalah perwujudan berbeda dari satu dunia yang diciptakan dan yang dikelola oleh satu tuhan. Karena itu ilmu-ilmu tersebut harus menggiring kira kepada gambaran tunggal dunia.
Filsafat sains:sebuah pendekatan al-Qur’an
  1. dalam visi al-Qur’an, fenomena alam merupakan tanda-tanda yang maha kuasa, dan suatu pemahaman tentang alam adalah analog dengan pemahaman tanda-tanda yang bisa membawa kita meraih pengetahuan tentang tuhan. (30:21,22,24)
  2. dalam perspektif al-Qur’an, memahami alam bukanlah usaha yang bermakna, kecuali jika ia mampu membantu kita memahami pencipta mahabijak dunia ini dan mendekatkan diri kepadaNya.
Kemungkinan memahami alam
  1. banyak sekali ayat yang menyuruh manusia untuk mempelajari alam. (10:101, 51:20-21, 29:20, 86:5
  2. manusia dapat memahami bahwa manusia diberi kemampuan mengetahui, dan harus menggunakan fakultas ini sesuai kemampuannya yang tertinggi. (2:31, 96:5, 16:78, 41:53, 27:93)
dalam hubungannya dengan fenomena alam, ada beberaoa masalah yang ditujukan di dalam al-Qur’an,
  1. asal-usul dan evolusi makhluk-makhluk dan fenomena.
Kita harus berusaha membuka asal-usul dan evolusi makhluk-makhluk, karena hal itu akan membantu dalam meningkatkan keimanan manusia dan membawa manusia lebih dekat kepada allah. (71:15-16, 32:7-9, 88:17-20)
Fenomena alam tententu disebutkan sebagai indikasi kebangkitan. (36:81, 35:9, 22:5)
  1. penemuan aturan, koordinasi dan tujuan alam
beberapa ayat menyebutkan adanya aturan, koordinasi dan tujuan alam sebagai bukti-bukti yang mengukuhykan eksistensi pencipta yang mahabijaksana dan mahakuasa.
    1. penciptaan langit dan bumi tidaklah sia-sia (6:73, 21:16, 23:115)
    2. kejadian-kejadian mengikuti suatu jalut alami untuk periode tertentu yang sebelumnya sudah ditentukan. (30:8, 13:2)
    3. keseluruhan proses penciptaan dan perjalanan kejadian-kejadian di dalam alam mengikuti suatu perhitungan dan ukuran yang sesuai, dan karena adanya keteraturan inilah maka hukuim alam itu menjadi bermakna. (55:5, 15:21, 13:8, 55:7, 25:2, 15:19)
    4. penemuan aturan dan koordinasi di dalam alam (yaoitu hukum-hukum alam) dan kepastian dalam karya tuhan amat perting dalam memahami alam. (10:5, 67:3)
  1. memanfaatkan kekayaan alam yang disediakan tuhan bagi manusia secara sah.
    1. pemberian-pemberian tuhan kepada manusia. (45:13, 7:10, 28:73, 30:46, 6:97)
    2. pemberian dimaksudkan untuk mengingatkan manusia akan rahmat-rahmat allah untuk menjadikannya akrab dengan pemberian-pemberian itu, serta bersyukur.
Cara-cara memahami alam
  1. pemahaman dapat diraih lewat mata, telinga dan intelek. (16:78)
  2. indera eksternal hanya penglihatan dan pendengaran yang merupakan alat-alat utama yang membantu seseorang dalam meraih pengetahuan akan dunia fisik.
  3. indera perasa, pencium dan peraba juga berguna dalam memberikan informasi berharga tentang dunia eksternal. (7:22, 12:94, 6:7)
  4. “fuad” ditafsirkan sebagai sebuah alat persepsi dan penalaran. Hati “qalb” juga disebut sebagai alat pemahaman dan persepsi. (22:46, 7:179, 9:87, 50:37, 16:108)
Saluran-saluran yang kita gunakan untuk memahami alam adalah:
  1. indera-indera eksternal (dengan indera ini pengamatan dan eksperimen dapat dilakukan).
  2. intelek yang tak terkotori oleh sifat-sifat buruk (yang menguasai kehendak-kehendak dan khayalan-khayalan, dan bebas dari peniruan buta).
  3. wahyu dan inspirasi.
Tingkatan-tingkatan dalam memahami alam
(manusia mempunyai kemampuan untuk memahami alam. Allah selalu memberikan kemampuan memahami ayat kepada manusia dari kelompok khusus)
  1. para perenung (10:10-11, 45:13)
  2. orang yang arif (2:164, 16:12
  3. orang-orang yang memahami (ulul albab) (3:180, 39:21)
  4. orang-orang beriman (45:3, 27:86)
  5. orang-orang yang bertakwa (menjaga diri dari kejahatan) (10:6, 2:63)
  6. orang yang berilmu (‘alim) (30:22, 10:5)
  7. orang yang ingat/sadar (16:13, 51:49)
  8. orang yang mendengarkan kebenaran firman tuhan (30:23, 16:65)
  9. orang-orang yang yakin (45:4, 51:20-21)
  10. orang-orang yang menguji kebenaran, memiliki wawasan dan memahami (6:98, 15:73-75, 20:54)