Categories

Kumpulan Mata Pelajaran Sekolah.

Download Software

Download E-Book Dan Software Pelajaran Untuk Komputer dan Handphone.

Motivasi

Artikel motivasi untuk kita selalu semangat meraih cita-cita

Tentang Kami

Profile Kami, Visi Misi, Partner dan Kontak kami.

News

Berita Tentang pendidikan Terbaru dan lain-lain.

Wednesday, December 17, 2014

MENGGAMBAR RAGAM HIAS GEOMETRIS

Ragam hias geometris adalah ragam hias yang menggunakan beraneka ragam unsur-unsur garis, seperti garis lurus, lengkung, zigzag, spiral, dan berbagai bidang seperti segi empat, persegi panjang, lingkaran, layang-layang, dan bentuk lainnya sebagai motif bentuk dasarnya.

Ragam hias geometris merupakan motif tertua dalam ornamen karena sudah dikenal sejak jaman prasejarah. Motif geometris berkembang dari bentuk titik, garis, atau bidang yang berulang dari yang sederhana sampai dengan pola yang rumit.

Ragam hias geometris, flora, dan fauna banyak di terapkan pada kain tenun, kain batik, kain sulam, kain bordir, bangunan rumah, candi-candi, ukiran, perabotan rumah tangga, kerajinan tangan, dan sebagainya.

Berikut ini beberapa motif dasar ragam hias geometris nusantara:

Swastika
Swastika adalah motif hias berbentuk dasar huruf Z yang saling berlawanan.



Pilin
Pilin adalah ragam hias yang memiliki bentuk dasar huruf S. Dalam variasinya juga berbentuk SS (pilin ganda).





Meander
Meander adalah ragam hias yang memiliki bentuk dasar huruf T. Dalam perkembangannya, ragam hias ini memunculkan ragam hias swastika.




Kawung
Kawung di dalam bahasa Sunda berarti arena tau kolang-kaling. Karena itu ragam hias kawung memiliki bentuk menyerupai buah aren yang dipotong melintang sehingga kelihatan empat biji aren.



Tumpal
Tumpal yaitu ragam hias tradisional Nusantara yang memiliki bentuk dasar segitiga sama kaki.






Ceplokan
Motif hias ceplokan adalah ragam hias yang terdiri atas satu motif dan disusun berulang-ulang.





Contoh Gambar Ragam Hias Geometris:
















































Contoh Gambar Ragam Hias Geometris Karya Siswa














































































































Orang yang Jatuh Cinta adalah Narsis!



Ada satu pandangan unik mengenai cinta dari salah seorang pemikir posmodern asal Perancis, Jacques Derrida. Bisa jadi, ini dikarenakan metode “dekonstruksi” yang digunakannya sehingga memberikan sudut pandang yang tak terduga-duga dan tak lazim bagi orang awam, bahkan bagi para pemikir sekalipun. Tak pelak, Derrida memang kerap mengejutkan rekan-rekannya melalui berbagai “pemikiran nakal” yang dicetuskannya.
(Jacques Derrida)
Dekonstruksi sebagaimana kita ketahui, berupaya menggeser “inti pemikiran” sedari pusat pada pinggiran. Sebagai misal, banyak orang menghujat dan memandang negatif peristiwa 9/11 [pusat pemikiran], namun Derrida justru menilainya secara positif, baginya kejadian tersebut justru membuat Amerika Serikat kian meningkatkan sistem keamanan nasional berikut memiliki momentum dalam upaya “penyegaran kembali” relasi sosial antar warganya yang dirasa cukup renggang sebelum terjadinya peristiwa 9/11 [pinggiran].

Kembali pada permasalahan semula, apa jadinya ketika Derrida menggunakan metode dekonstruksi dalam menganalisis cinta? Jawabnya, “Orang yang jatuh cinta adalah narsis!”. Mengapa demikian? Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa seseorang yang tengah jatuh cinta pada dasarnya membutuhkan perhatian, kasih sayang, bahkan “pemujaan” dari orang yang dicintainya. Itulah mengapa, Derrida mendaulat mereka yang tengah jatuh cinta sebagai narsis.    
Apakah Anda sedang jatuh cinta?
 
Sumber: kolomsosiologi.blogspot.com

Pergeseran Makna Pacaran

 
Apa Itu Pacaran?
 
Setidaknya, kita dapat mendefinisikan “pacaran” sebagai hubungan emosional yang terjalin antara dua anak manusia dan dilandasi oleh ikatan batin antar kedua belah pihak yang terlibat di dalamnya. Melalui definisi tersebut, sesungguhnya mereka yang berpacaran tak sebatas pada individu-individu yang berlawanan jenis (pria-wanita), melainkan pula mereka individu-individu sesama jenis; pria dengan pria yang kerap disebut “homo”, atau sesama wanita yang disebut “lesbi”.


Fungsi Pacaran?
 
Umumnya, pacaran berfungsi sebagai proses penyesuaian antara dua anak manusia yang saling mencintai sebelum beranjak pada jenjang yang lebih serius, pernikahan. Melaluinya, diharapkan setiap pasangan mampu menentukan dan menimbang apakah pasangannya (baca: pacarnya) memenuhi kriteria-kriteria yang diharapkannya berikut mampu menjadi pendamping hidupnya di kemudian hari dalam suka maupun duka.




Pergeseran Fungsi Pacaran
 
Namun demikian, tak dapat dipungkiri bahwa saat ini telah terjadi distorsi (pergeseran) sedemikian rupa dalam jalinan batin antara dua anak manusia yang kerap diistilahkan dengan pacaran ini. Apabila pada mulanya pacaran berfungsi sebagai tahap penyesuaian sebelum beranjak pada jenjang yang lebih serius, kini pacaran lebih tampak sebagai having fun, semacam perilaku yang sekedar berorientasi pada kesenangan belaka, hal ini kiranya tampak melalui kecenderungan “gonta-ganti” pacar yang kerap kita temui pada anak muda dewasa ini. Bagi mereka, pacaran tak lagi dianggap sebagai perihal yang “sakral” dan suci, ataupun sebagai proses penyesuaian pada tahapan pra-Nikah, melainkan lebih pada hasrat “untuk mencoba”; “Bagaimana rasanya berpacaran dengan Si A, Si B atau Si C?”, kira-kira demikian ilustrasinya. Melalui hal tersebut, dapatlah ditilik bahwa saat ini pacaran sekedar menjadi pengejawantahan “hasrat-libidinal”.



Tak hanya itu saja, dewasa ini pacaran lebih dianggap sebagai “tren”, agaknya cukup banyak dari mereka yang merasa “minder” atau “kurang” dalam pergaulan apabila belum memiliki pacar. Dengan demikian, seolah pacaran sekedar ditujukan sebagai “status” semata. Kiranya, hal tersebut kian diperparah dengan berbagai media jejaring sosial yang menyediakan informasi mengenai “tengah berhubungan atau tidaknya seseorang”. Di samping itu, tak jarang pula saat ini banyak pemuda/i yang sengaja memacari pria atau wanita tertentu guna mendongkrak pamornya dalam pergaulan. Sebagai misal, bakal timbul “keseganan” dari pihak lain atau kepuasan diri apabila seseorang dapat memacari pria/wanita yang diidolakan banyak orang. Secara tak langsung, hal tersebut sudah pasti bakal mendongkrak citranya dalam pergaulan—bakal “diperhitungkan”.

Sumber: kolomsosiologi.blogspot.com